Oleh: al-Faqir Apria Putra
Sejarah Paderi yang tersiar.
Paderi merupakan salah satu fase penting dalam sejarah Islam di Minangkabau di awal abad 19. Sejarah mengenai Paderi; mulanya, jalannya peperangan, hingga berakhirnya karir Tuanku Imam Bonjol dengan dibuang ke Menado, telah maklum diketahui dari generasi ke generasi, dibarengi dengan publikasi artikel, jurnal, buku, hasil penelitian mengenai Paderi yang semakin digemari. Publikasi itu telah lama kita dengar, kita baca, apakah dari sumber-sumber Belanda sendiri, sumber pribumi (yang ditulis oleh ilmuan Indonesia sendiri, seperti Radjab, Hamka dan lainnya), hingga manuskrip-manuskrip peninggalan ulama-ulama yang mempunyai keterkaitan dengan Paderi tersebut (seperti manuskrip yang dikenal dengan memori Tuanku Imam Bonjol yang raib setelah festival Istiqlal dua dasawarsa lalu).
Salah satu bagian menarik, dan menggelitik dari beberapa buku yang menguraikan mengenai Paderi tersebut ialah disebutkan bahwa “Paderi ialah Wahabi”. Sebuah pernyataan yang menyentakkan saya, karena bukan hanya dibicarakan oleh orang-orang terkemuka dalam lapangan kesejarahan negeri ini, tapi tertulis rapi dalam buku-buku yang familiar dengan kita seperti “Sedjarah Minangkabau (1950)” dan lainnya. Penyataan ini sekaligus menjadi cemeti bagi sebahagian “kalangan”, dengan niat menekankan pengaruhnya, bahwa di sini, Minangkabau, sejak dahulu Wahabi itu telah ada. Bagaimana 3 orang Haji asal Minangkabau; Haji Miskin, Haji Piobang dan Haji Sumaniak menyebarkan ajaran baru, hingga merona merekah tersebar ajaran itu di negeri ini. Ini membuat heran kita, selaku orang-orang di Surau, negeri yang menjadi salah satu pusat keislaman di Nusantara ini pernah menjadi sentra gerakan radikal-puritan, membid’ahkan segala yang yang tidak sesuai dengannya; melalap habis tasawuf, memalingkan furu’ syari’ah dari Mazhab Syafi’i menjadi ber-Mazhab ala Ibnu Taymiyah. Benarkah demikian adanya? Bila kita tinjau secara mendalam, berbeda keadaannya 180 derajat antara Paderi dengan Wahabi. Kita urai sekedar dalam tulisan sederhana ini.
Siapa Wahabi. Dari karya-karya klasik yang ditulis semasa dengan gerakan Wahabi di Mekah awal abad 19, seperti “Fitnatul Wahabiyyah” karya Mufti Mekah Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, “al-Shawa’iq al-Ilahiyyah” karya Syekh Sulaiman Sulaiman bin Abdul Wahhab (saudara Syekh Abdul Wahhab al-Najd tersebut), atau buku-buku baru penelitian muslim maupun non muslim sendiri, seperti “al-Wahabiyyah Firqah lil-Tafriqah Baynal Muslimin: Dirasah Tarikhiyyah Syamilah” karya Hamid Ibrahim Abdullah dan “Wahabi Islam: From Revival and Reform to Global Jihad” karangan Natana J. Delong-Bas, diketahui sepak terjang Wahabi sejak permulaan kemunculannya, hingga gerakannya hingga saat ini. Di sini akan kita ringkas. Wahabi dinisbahkan kepada pendirinya Syekh Muhammad ibn Abdul Wahhab al-Najd. Gerakan ini bermula dari pemahaman Syekh Muhammad ibn Abdul Wahhab sendiri, yang nota bene-nya dipengaruhi oleh pemahaman Ibnu Taymiyah. Gerakan ini pernah menguasai Mekah pada awal abad 19, namun tidak beberapa lama setelahnya terusir oleh Syarif Mekah. Dan kembali menguasai Mekah pada tahun 1925. Sampai saat ini, Wahabi menjadi faham resmi Saudi Arabia, dan mereka menamakan sendirinya dengan “Salafi”, sehingga tampak lebih menawan. Dan sekarang lebih canggih lagi setelah populernya Muhammad Nashiruddin al-Albani yang mereka elu-elukan sebagai muhaddis besar malah sampai menyatakannya sebagai Mujtahid Muthlaq; yang kemudian menjadi tameng untuk menjustifikasi ajaran-ajaran yang berseberangan dengannya. Pokok ajarannya, menolak ajaran-ajaran yang berseberangan dengan mereka; seperti tawassul, ziarah, tasawuf berikut tarekat-tarekat yang ada, taqlid kepada imam-imam mazhab (meski mereka mengaku diri bermazhab Hanbali), Maulid Nabi, I’tikad Ahlussunnah wal Jama’ah (Asy’ari dan Maturidi), dan banyak lagi lainnya. Semua yang berseberangan, dengan mudah, dilabeli dengan “bid’ah”.
Kemudian bagaimana dengan Paderi?
Paderi, Samakah dengan Wahabi?
Dari beberapa buku tulisan orang-orang negeri bawah angin ini kita baca, sebahagian darinya menekan betul bahwa Paderi ialah Wahabi sendiri, dalam artian berfaham sebagaimana faham Wahabi yang kita paparkan di atas. Benarkan demikian adanya.
Hamka, sebagai seorang tokoh yang gandrung dengan pembaharuan, menulis dalam “Ayahku”, yang kemudian dipertegasnya dalam “Antara Fakta dan Khayal Tuanku Rao” (buku bantahan terhadap “Tuanku Rao” yang ditulis Parlindungan), bahwa 3 Haji yang bersinggunggan dengan kondisi sosial Mekah ketika Wahabi menyerang Mekah mendapat inspirasi. Inspirasi untuk menegakkan agama sebagai orang-orang Wahabi yang keras. Ketika mereka pula ke kampung halamannya, semangat itulah yang dibawa untuk menghentikan sabung ayam, minum tuak, judi dan lainnya (baca “Ayahku”, 1982, hal. 14-15). Namun apakah ketiga Haji, kemudian diejawantahkan oleh Tuanku nan Renceh dan Harimau nan Salapan perpaham ala Wahabi pula? Ternyata tidak. Hamka meneruskan dalam “Antara Fakta dan Khayal Tuanku Rao”, bahwa semenjak dahulu Mazhab Syafi’i telah berurat berakar di Minangkabau khususnya, Nusantara umumnya. Artinya, meski Paderi dikenal radikal dalam tindakan, namun secara faham keagamaan tidak ada yang berubah. Dan kita menemukan banyak bukti tentang hal itu, di sini kita lansir sekedar.
(1) Paderi dan Tarekat.
Keberadaan Tasawuf, sebagai salah satu cabang keilmuan terpenting dalam Islam telah jauh ada di Minangkabau, semenjak Islam itu masuk ke daerah ini. Munculnya gerakan Paderi di awal abad 19 ternyata tidak merubah kentalnya ajaran Tarekat (Tasawuf) di daerah ini. Ini kita lihat, dari perihal kehidupan tokoh-tokohnya sendiri. Tuanku nan Tuo (1723-1830), dikenal sebagai ulama yang lautan ilmu, dikenal luas sebagai Wali-Allah yang bertuah. Dalam satu catatan langka, catatan dari Syekh Jalaluddin Cangkiang (muridnya) yang masih berbentuk manuskrip, kita ketahui bagaimana sosoknya yang menjadi “tempat menimba ilmu, fatwa dan bernazar” (manuskrip tersebut telah berusia hampir 2 abad, tersimpan di Surau Calau Sijunjung). Beliau telah menerima tarekat Syattariyah dari Syekh Mansiangan yang Tuo, silsilahnya bersambung kepada ulama besar Syekh Burhanuddin Ulakan (semua informasi ini dalam “Surat Keterangan Syekh Jalaluddin Ahmad” yang terbit dalam “Verhaal van den Aanvang der Padri-Onlusten op Sumatera”, 1857). Salah satu cabang keilmuan yang diajar, di samping fikih, tafsir, ma’ani dan lainnya, oleh Tuanku nan Tuo ialah Tasawuf, dengan mengajarkan tarekat Syattariyyah ini. Sebagian murid-muridnya inilah yang kemudian menjadi penggerak Paderi, di antaranya Tuanku nan Renceh dan Harimau nan Salapan. Meski mereka tidak sependapat dengan gurunya yang konservatif, namun mereka tidak membantah keilmuan Tuanku nan Tuo. Begitu juga, Syekh Jalaluddin Cangkiang, dikenal dengan tokoh awal Tarekat Naqsyabandiyah di Darat (ini dibicarakan oleh banyak sumber, seperti dalam “al-Miftah al-Shadiqiyyah”-nya Syekh Chatib ‘Ali). Selain itu, pasukan Paderi, di antaranya ialah Syekh Ibrahim bin Pahati Kumpulan, seorang ulama besar yang kemudian dikenal sebagai tokoh Tarekat Naqsyabandiyah di Sumatera. Kesemuanya adalah ulama yang berpegang dengan Ahlussunnah wal Jama’ah dan Mazhab Syafi’i (Baca “Syair Syekh Ahmad Jalaluddin Cangkiang”, manuskrip).
Jelas bahwa, Tarekat dan Paderi bergandeng kuat; dengan tarekat itu pula mereka berjuang (kemudian) melawan Holanda. Hal ini diperkuat, bila kita sempat berjalan-jalan ke kawasan Bonjol, Lintau, Lima Puluh Kota, dll, kita akan temui daerah itu sebagai pusat Tarekat-Tarekat yang diwariskan dari ulama ke ulama semenjak dahulu.
(2) Paderi dan Maulid Nabi.
Syekh Jalaluddin Ahmad Cangkiang, menulis (dalam sumber pribumi yang menjadi rujukan sejarah) dalam “Surat Keterangan”, bahwa dimasa Paderi inilah dimulai perayaan Maulid Nabi (baca “Verhaal”). Dengan ini, Schrieke, sarjana Filologi dan Sosiologi dimasa Belanda menegaskan bahwa Paderi bukanlah Wahabi.
(3) Paderi, Makam Keramat dan Mantera.
Juga berdasarkan saksi mata Paderi, Syekh Jalaluddin Cangkiang, beliau menulis bahwa Paderi tidak menegahkan berziarah kepada makam-makam ulama yang dianggap keramat (baca “Verhaal”). Ini kemudian bisa kita saksikan makam pejuang-pejuang Paderi yang dapat kita lihat, semuanya dibuatkan kubah, dan diziarahi layaknya ulama-ulama sufi. Misalnya Makam Tuanku nan Garang di Pandai Sikek, Haji Piobang di Payakumbuh dan Tuanku nan Garang di Harau, mereka dikenal masyarakat sebagai tokoh-tokoh Tasawuf. Bahkan dikabarkan bahwa dimasa Tuanku nan Renceh inilah populernya mantera-mantera berbahasa Minang yang kental unsur Islamnya. Tentu hal ini 180 derajat membelakangi Wahabi. Lagi, bila kita lihat peninggalan bekas tangan Tuanku Imam Bonjol, kita temui beberapa manuskrip mengenai pengetahuan hari baik dan hari buruk, ilmu Mantiq, dll, tentu semakin membuat jelas.
(4) Riwayat Paderi: Riwayat Sufi-Sufi.
Bila tuan membaca scrip (tulisan) asli mengenai sejarah Paderi, niscaya kita akan melihat kisah-kisah jalannya gerakan ini seperti riwayat sufi-sufi. Ini misalnya ketika membaca “Surat Keterangan”, “Nazham Syekh Jalaluddin”, “Memori Tuanku Imam Bonjol”, dll, semuanya (kecuali yang terakhir) masih dalam bentuk manuskrip, tulisan tangan dengan huruf Arab Melayu.
Walhasil.
Kembali kita kutip analisa Hamka dalam “Antara Fakta”nya, bahwa ketiga Haji (pelopor Paderi) itu memang terpengaruh Wahabi, namun mereka tidak mengikuti mazhab Hanbali (mazhab-nya Wahabi). Berikut schrieke berujar, pengikut Islam yang ketat bukanlah Wahabi. Hasilnya, Paderi, sepakat kita akui awalnya sebagai gerakan radikal dalam menegakkan syari’at (shalat, shalat berjema’ah, puasa, meninggalkan maksiat dan lainnya), yang kemudian menjadi perjuangan mengusir penjajah Belanda. Namun, perlu kita tekankan, meski 3 Haji terinspirasi oleh radikalisme Wahabi di Mekah, Paderi tidak mengambil faham Wahabi sebagai ideologi perjuangannya; mereka tetap ber-Ahlussunnah wal Jama’ah, bermazhab Syafi’i dan ber-Tarikat sebagai sedia kala, dan itulah yang diwariskan dari ulama ke ulama, hingga saat sekarang ini. Kesimpulan ini akan sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Prof. Adrianus Chatib dalam disertasinya “Paderi dan Faham Keagamaan di Minangkabau” (1991, yang sampai saat ini belum dipublis).
Tulisan ini saya niatkan sebagai pembangun teman sepetiduran di Surau; supaya terjaga, menggenggam erat-erat Ahlussunnah wal Jama’ah yang diwariskan ulama-ulama silam di negeri seribu ulama ini. Menginggat, semakin maraknya propaganda dari teman-teman kita yang telah menompang biduk yang asing, sepulang Kairo, di mana mereka hendak menyisihkan Surau, membelakangi Ahlussunnah wal Jama’ah yang mayoritas diperpegangi oleh ulama dan kaum Muslimin di dunia, hendak menukar itu semua dengan faham Salafi-Wahabi. Ingat, meski mendapat diploma al-Azhar, mereka yang berfaham seperti itu bukanlah orang yang menimba ilmu kepada ulama-ulama al-Azhar, tapi belajar di halakah-halakah Salafi-Wahabi yang bertebaran di luar al-Azhar.
Semoga terjaga dari lelap, wahai Urang Siak!!!
Dalam khalwat yang hening,
Jakarta.
Surau Tuo
AKAR ISLAM MINANGKABAU - Kumpulan khazanah keemasan Islam di Minangkabau. Mulai dari ulama-ulama Tuo, Surau, hingga karya-karya klasik. Surau Tuo tempat mula mengkaji agama dan adat, tempat menempa akal, budi, raso pareso jo mufakat; tempat menaiki jenjang Syari'at Tarikat Hakikat Ma'rifat. Mencapai INSAN KAMIL, "iduik nan ka dipakai, mati nan ka ditompang."
Sabtu, 18 Mei 2013
Selasa, 02 April 2013
Syekh Harun al-Rasyidi at-Tobohi al-Fariyamani (w. 1959) dan karya tulisnya
Oleh: al-faqir al-haqir Apria Putra
Toboh, seperti daerah-daerah lainnya di Pariaman, merupakan kampung yang agamis. Daerah Toboh berdekatan dengan pusat-pusat keislaman basis tarekat Syattariyah masa lalu, seperti Bintungan Tinggi dan Lubuak Ipuah. Bintungan Tinggi dikenal dengan “Surau Baru Bintungan Tinggi”, pusat pendidikan Islam dengan ulamanya yang masyhur Syekh Abdurrahman Bintungan Tinggi. Demikian juga Lubuak Ipuah juga merupakan salah satu sentra pendidikan Islam, tentunya kita kenal “Surau Lubuah Ipuah” dan “Syekh Lubuak Ipuah”.
Dari Toboh, lahirlah seorang tokoh ulama yang terkemuka di masanya. Beliau tidak banyak dikenal dengan generasi muda saat ini, namun beliau telah meninggalkan bekas tanggan, berupa jasa-jasa terhadap Islam dan ilmu pengetahuan bagi generasi kita saat ini. Tokoh ulama tersebut ialah Syekh Harun al-Rasyidi al-Tobohi al-Fariyamani. Kata-kata al-Tobohi al-Fariyamani merupakan nisbah beliau, berupa kampung halaman yang diabadikan pada namanya, yang berarti Syekh Harun al-Rasyidi yang berasal dari negeri Toboh di Pariaman.
Dalam inskripsi makam beliau, Syekh Harun Toboh diketahui wafat pada tahun 1959. Mengenai masa kecil beliau dan pengembaraan menuntut ilmu masih tertutup kabut sejarah. Namun mengenai perjuangannya dalam bidang agama masih dibaca oleh orang tua-tua dan masih tertulis dalam catatan-catatan lama.
Beliau –Syekh Harun Toboh- merupakan salah seorang ulama yang mengajar pada Diniyyah School, yang merupakan sekolah agama yang dikelola oleh Jam’iyyah Tarbiyah al-Khairiyyah al-Islamiyyah, di kampung Sunur. Pada sekolah agama ini beliau berstatus sebagai “akbar khadim thalabah al-Ilmi”, yaitu “guru besar”. Sunur, daerah tempat Diniyyah School ini berdiri, ialah salah satu negerinya ulama. Di abad 19, dikenal di kampung Sunur ini seorang ulama yang masyhur yaitu Syekh Daud Sunur, dengan karangannya yang monumental “Sya’ir Sunur” dan “Sya’ir Mekah Madinah”. Selain mengajar agama di Sunur, Syekh Harun Toboh juga mengajar agama di Batipuah, Pedalaman Minangkabau. Tepatnya di “Surau Lubuak Bauak”, Syekh Harun menggelar pengajian. Sampai beliau wafat di tahun 1959 dan dimakamkan di sini, Batipuah.

Foto: Surau Lubuak Bauak
Mengenai pribadi Syekh Harun Toboh, Buya Hamka (Haji Abdul Malik Abdul Karim Amrullah) pernah bersua dengan Syekh Toboh di masa Belanda, dalam bukunya “Antara Fakta dan Khayal Tuanku Rao” menyebutkan Syekh Toboh sebagai ulama terkemuka di masa itu. Dr. Schieke, seorang orientalis kebangsaan Belanda yang lama bercokol di Minangkabau, dalam Bijdrage van de huidige godsdienstige beweging ter Sumatra’s Westkust (TBG 59,1919-1921) menyebutkan Syekh Harun Toboh sebagai ulama pejuang dari kalangan “Kaum Tua” lewat karya-karyanya, dan punya andil dalam perdebatan antara ulama modernis dan ulama tradisional di Minangkabau.
Sebagai ulama tempo dulu, Syekh Harun Toboh, bukan hanya dikenal karena keaktifannya mengajar agama, tapi juga produktif menulis karya-karya. Dalam catatan saya, terdapat 4 karya Syekh Harun Toboh yang dapat diinventaris. Karya-karya itu ialah (1) Falahan Mubtadi, sebuah karya apologetis, yang dicatat Schieke sebagai bantahan terhadap ulama modernis (kaum muda), (2) Sejarah Syekh Burhanuddin Ulakan, yang dipakai oleh Hamka sebagai rujukan mengenai biografi Syekh Burhanuddin Ulakan, (3) Mafatih al-Fikriyyah fi al-Ilm al-Manthiqiyyah, dan (4) Mafatih al-Mabahist fi Istilah al-Ahadist.
Mengunjungi Batipuah, ke surau Lubuk Bauak dan ziarah ke makam Syekh Harun Toboh.
Pada juni tahun 2011, saya sempat mengunjungi Surau Lubuak Bauak dan berziarah ke makam Syekh Harun Toboh di Batipuah. Dalam kunjungan itu saya bertemu dengan penjaga Surau Lubuak Bauak, seorang tua, yang ketika ditanya hanya menjawab “o... Haji Harun”. Penjaga Surau itu tidak lagi kenal dengan pribadi Haji Harun tersebut, namun ia menyodorkan satu kitab tua yang disimpannya sebagai kenang-kenangan, entah peninggalan Syekh Harun. Kitab itu ialah Bidayatul Mujtahid karya Ibnu Rusyd cetakan lama, sebuah kitab perbandingan mazhab fiqih.

Foto: Saya (kiri) bercakap-cakap dengan penjaga Surau Lubuak Bauak.
Lama bercerita, sambil menikmati keunikan Surau Lubuak Bauak, yang saat ini telah menjadi salah satu cagar budaya. Penjaga surau kemudian membawa kami untuk menziarahi makam Syekh Harun Toboh. Makam itu terletak di tebing, di seberang Surau, yang harus ditempuh dengan mendaki semak belukar. Di atas tebing terdapat banyak makam yang tidak terurus lagi. Beberapa di antaranya ialah makam ulama yang tidak diketahui lagi siapa, hal ini ditandai dengan dinding dan nisannya yang unik. Makam Syekh Harun terletak di tengah-tengah, dalam kondisi juga ditumbuhi rumput liar.

foto: Makam Syekh Harun Toboh
Di sini, saya sempat membaca al-Fatihah dan berdo’a untuk beliau, al-Marhum.
Dua Karya Syekh Harun Toboh: Mantiq dan Musthalah
Terdapat dua karya Syekh Harun Toboh yang terbilang unik. Saya katakan unik karena jarang ulama-ulama Minang di masanya yang menulis karya mengenai bidang keilmuan ini, yaitu ilmu Mantiq dan ilmu Mustalah Hadist.
Dua kitab karya Syekh Harun Toboh mengenai dua fan keilmuan ini ialah, 1- Mafatih al-Fikriyyah fi al-Ilm al-Manthiqiyyah (kunci-kunci berfikir, dalam ilmu mantiq), dan 2- Mafatih al-Mabahist fi Istilah al-Ahadist (kunci-kunci dalam membahas masalah, dalam menjelaskan istilah-istilah hadis). Bersyukur, saya menjumpai dua karya langka ini, tepatnya di Balai Gurah, Ampek Angkek, Agam.
Ilmu Mantiq (Logika), atau disebut juga ilmu Nazhar, ialah salah satu ilmu alat yang mesti dimiliki oleh seorang ahli agama. Ilmu ini berdekatan dengan ilmu Ushul Fiqih. Secara sederhana Mantiq merupakan ilmu yang membahas metode berfikir lurus, logis, sehingga terhindar dari pemahan yang salah dan fikiran yang keliru. Kegunaan ilmu ini di antaranya untuk berhujjah, mempertahankan argumen didepan para mu’taridh (orang yang membantah). Ulama-ulama minang tempo dulu, khususnya, sangat menekuni ilmu ini, disamping belajar ilmu-ilmu agama lainnya secara mendalam.


Selain Mantiq, ilmu Mustalah Hadis merupakan ilmu alat lainnya yang mesti dimiliki oleh seorang yang ahli agama. Ilmu ini membahas kedudukan satu hadis, apakah hadis itu sahih, hasan atau dha’if. Biasanya keilmuan ini, dikalangan ulama-ulama silam, didalami dengan segenap aspeknya, sebelum memberikan fatwa di tengah-tengah masyarakat.
Syekh Harun Toboh, mengarang dua karya dalam disiplin ilmu ini. Seperti tertera pada mukaddimah, karya-karya ini ditulis untuk membantu “urang-urang siak” (baca: santri) dalam memahami dasar-dasar ilmu Mantiq dan ilmu Mustalah Hadist, sebelum melangkah mendalaminya lewat kitab-kitab muthawwalat (kitab-kitab besar).
Mafatih al-Fikriyyah dan Mafatih al-Mabahist karya Syekh Harun Toboh diterbitkan pada tahun 1928, diterbitkan oleh penulis sendiri dan Syarikah Muhammad Thayyib ibn Haji Ahmad Pasir Baru Padang Panjang. Dicetak oleh Mathba’ah Tsamaratul Ikhwan, Fort de Kock (Bukittinggi).
Demikian tipikal ulama-ulama silam, sebagai terpotret dalam pribadi Syekh Harun Toboh Pariaman. Semoga menjadi kaca bercermin bagi kita, disamping meneladani ulama lalu.
Ciputat, Jakarta.
Jum’at, di waktu Dhuha, 5 Jumadil Awwal 1434 H /15 Maret 2013.
Toboh, seperti daerah-daerah lainnya di Pariaman, merupakan kampung yang agamis. Daerah Toboh berdekatan dengan pusat-pusat keislaman basis tarekat Syattariyah masa lalu, seperti Bintungan Tinggi dan Lubuak Ipuah. Bintungan Tinggi dikenal dengan “Surau Baru Bintungan Tinggi”, pusat pendidikan Islam dengan ulamanya yang masyhur Syekh Abdurrahman Bintungan Tinggi. Demikian juga Lubuak Ipuah juga merupakan salah satu sentra pendidikan Islam, tentunya kita kenal “Surau Lubuah Ipuah” dan “Syekh Lubuak Ipuah”.
Dari Toboh, lahirlah seorang tokoh ulama yang terkemuka di masanya. Beliau tidak banyak dikenal dengan generasi muda saat ini, namun beliau telah meninggalkan bekas tanggan, berupa jasa-jasa terhadap Islam dan ilmu pengetahuan bagi generasi kita saat ini. Tokoh ulama tersebut ialah Syekh Harun al-Rasyidi al-Tobohi al-Fariyamani. Kata-kata al-Tobohi al-Fariyamani merupakan nisbah beliau, berupa kampung halaman yang diabadikan pada namanya, yang berarti Syekh Harun al-Rasyidi yang berasal dari negeri Toboh di Pariaman.
Dalam inskripsi makam beliau, Syekh Harun Toboh diketahui wafat pada tahun 1959. Mengenai masa kecil beliau dan pengembaraan menuntut ilmu masih tertutup kabut sejarah. Namun mengenai perjuangannya dalam bidang agama masih dibaca oleh orang tua-tua dan masih tertulis dalam catatan-catatan lama.
Beliau –Syekh Harun Toboh- merupakan salah seorang ulama yang mengajar pada Diniyyah School, yang merupakan sekolah agama yang dikelola oleh Jam’iyyah Tarbiyah al-Khairiyyah al-Islamiyyah, di kampung Sunur. Pada sekolah agama ini beliau berstatus sebagai “akbar khadim thalabah al-Ilmi”, yaitu “guru besar”. Sunur, daerah tempat Diniyyah School ini berdiri, ialah salah satu negerinya ulama. Di abad 19, dikenal di kampung Sunur ini seorang ulama yang masyhur yaitu Syekh Daud Sunur, dengan karangannya yang monumental “Sya’ir Sunur” dan “Sya’ir Mekah Madinah”. Selain mengajar agama di Sunur, Syekh Harun Toboh juga mengajar agama di Batipuah, Pedalaman Minangkabau. Tepatnya di “Surau Lubuak Bauak”, Syekh Harun menggelar pengajian. Sampai beliau wafat di tahun 1959 dan dimakamkan di sini, Batipuah.
Foto: Surau Lubuak Bauak
Mengenai pribadi Syekh Harun Toboh, Buya Hamka (Haji Abdul Malik Abdul Karim Amrullah) pernah bersua dengan Syekh Toboh di masa Belanda, dalam bukunya “Antara Fakta dan Khayal Tuanku Rao” menyebutkan Syekh Toboh sebagai ulama terkemuka di masa itu. Dr. Schieke, seorang orientalis kebangsaan Belanda yang lama bercokol di Minangkabau, dalam Bijdrage van de huidige godsdienstige beweging ter Sumatra’s Westkust (TBG 59,1919-1921) menyebutkan Syekh Harun Toboh sebagai ulama pejuang dari kalangan “Kaum Tua” lewat karya-karyanya, dan punya andil dalam perdebatan antara ulama modernis dan ulama tradisional di Minangkabau.
Sebagai ulama tempo dulu, Syekh Harun Toboh, bukan hanya dikenal karena keaktifannya mengajar agama, tapi juga produktif menulis karya-karya. Dalam catatan saya, terdapat 4 karya Syekh Harun Toboh yang dapat diinventaris. Karya-karya itu ialah (1) Falahan Mubtadi, sebuah karya apologetis, yang dicatat Schieke sebagai bantahan terhadap ulama modernis (kaum muda), (2) Sejarah Syekh Burhanuddin Ulakan, yang dipakai oleh Hamka sebagai rujukan mengenai biografi Syekh Burhanuddin Ulakan, (3) Mafatih al-Fikriyyah fi al-Ilm al-Manthiqiyyah, dan (4) Mafatih al-Mabahist fi Istilah al-Ahadist.
Mengunjungi Batipuah, ke surau Lubuk Bauak dan ziarah ke makam Syekh Harun Toboh.
Pada juni tahun 2011, saya sempat mengunjungi Surau Lubuak Bauak dan berziarah ke makam Syekh Harun Toboh di Batipuah. Dalam kunjungan itu saya bertemu dengan penjaga Surau Lubuak Bauak, seorang tua, yang ketika ditanya hanya menjawab “o... Haji Harun”. Penjaga Surau itu tidak lagi kenal dengan pribadi Haji Harun tersebut, namun ia menyodorkan satu kitab tua yang disimpannya sebagai kenang-kenangan, entah peninggalan Syekh Harun. Kitab itu ialah Bidayatul Mujtahid karya Ibnu Rusyd cetakan lama, sebuah kitab perbandingan mazhab fiqih.
Foto: Saya (kiri) bercakap-cakap dengan penjaga Surau Lubuak Bauak.
Lama bercerita, sambil menikmati keunikan Surau Lubuak Bauak, yang saat ini telah menjadi salah satu cagar budaya. Penjaga surau kemudian membawa kami untuk menziarahi makam Syekh Harun Toboh. Makam itu terletak di tebing, di seberang Surau, yang harus ditempuh dengan mendaki semak belukar. Di atas tebing terdapat banyak makam yang tidak terurus lagi. Beberapa di antaranya ialah makam ulama yang tidak diketahui lagi siapa, hal ini ditandai dengan dinding dan nisannya yang unik. Makam Syekh Harun terletak di tengah-tengah, dalam kondisi juga ditumbuhi rumput liar.
foto: Makam Syekh Harun Toboh
Di sini, saya sempat membaca al-Fatihah dan berdo’a untuk beliau, al-Marhum.
Dua Karya Syekh Harun Toboh: Mantiq dan Musthalah
Terdapat dua karya Syekh Harun Toboh yang terbilang unik. Saya katakan unik karena jarang ulama-ulama Minang di masanya yang menulis karya mengenai bidang keilmuan ini, yaitu ilmu Mantiq dan ilmu Mustalah Hadist.
Dua kitab karya Syekh Harun Toboh mengenai dua fan keilmuan ini ialah, 1- Mafatih al-Fikriyyah fi al-Ilm al-Manthiqiyyah (kunci-kunci berfikir, dalam ilmu mantiq), dan 2- Mafatih al-Mabahist fi Istilah al-Ahadist (kunci-kunci dalam membahas masalah, dalam menjelaskan istilah-istilah hadis). Bersyukur, saya menjumpai dua karya langka ini, tepatnya di Balai Gurah, Ampek Angkek, Agam.
Ilmu Mantiq (Logika), atau disebut juga ilmu Nazhar, ialah salah satu ilmu alat yang mesti dimiliki oleh seorang ahli agama. Ilmu ini berdekatan dengan ilmu Ushul Fiqih. Secara sederhana Mantiq merupakan ilmu yang membahas metode berfikir lurus, logis, sehingga terhindar dari pemahan yang salah dan fikiran yang keliru. Kegunaan ilmu ini di antaranya untuk berhujjah, mempertahankan argumen didepan para mu’taridh (orang yang membantah). Ulama-ulama minang tempo dulu, khususnya, sangat menekuni ilmu ini, disamping belajar ilmu-ilmu agama lainnya secara mendalam.


Selain Mantiq, ilmu Mustalah Hadis merupakan ilmu alat lainnya yang mesti dimiliki oleh seorang yang ahli agama. Ilmu ini membahas kedudukan satu hadis, apakah hadis itu sahih, hasan atau dha’if. Biasanya keilmuan ini, dikalangan ulama-ulama silam, didalami dengan segenap aspeknya, sebelum memberikan fatwa di tengah-tengah masyarakat.
Syekh Harun Toboh, mengarang dua karya dalam disiplin ilmu ini. Seperti tertera pada mukaddimah, karya-karya ini ditulis untuk membantu “urang-urang siak” (baca: santri) dalam memahami dasar-dasar ilmu Mantiq dan ilmu Mustalah Hadist, sebelum melangkah mendalaminya lewat kitab-kitab muthawwalat (kitab-kitab besar).
Mafatih al-Fikriyyah dan Mafatih al-Mabahist karya Syekh Harun Toboh diterbitkan pada tahun 1928, diterbitkan oleh penulis sendiri dan Syarikah Muhammad Thayyib ibn Haji Ahmad Pasir Baru Padang Panjang. Dicetak oleh Mathba’ah Tsamaratul Ikhwan, Fort de Kock (Bukittinggi).
Demikian tipikal ulama-ulama silam, sebagai terpotret dalam pribadi Syekh Harun Toboh Pariaman. Semoga menjadi kaca bercermin bagi kita, disamping meneladani ulama lalu.
Ciputat, Jakarta.
Jum’at, di waktu Dhuha, 5 Jumadil Awwal 1434 H /15 Maret 2013.
Jumat, 01 Maret 2013
Di antara sisa-sisa peninggalan Tuanku Samiak Biaro
Oleh: al-Faqir Apria Putra
Beberapa waktu yang lalu saya sempat diajak untuk melihat kitab-kitab tua di Ampek Angkek (Bukittinggi), Luak Agam. Di sana ke dapatanlah beberapa naskah tua yang ternyata berasal dari kepunyaan Tuanku Syekh Samiak Ilmiyah di Biaro. Tuanku Syekh tersebut ialah salah seorang ulama kenamaan di abad 19. Bertempat di Biaro, beliau mendirikan sebuah surau yang kemudian masyhur di kalangan ‘urang-urang siak’ (santri) dari berbagai daerah di Minangkabau. Di surau ini dulunya, Syekh Sulaiman ar-Rasuli Candung (1871-1970), salah seorang ulama terkemuka Minangkabau abad 20, pernah menimba ilmu agama.
Surau Tuanku Samiak ini tetap berdiri hingga akhir abad 20, meski pelajaran agama seperti masa Tuanku Syekh tersebut tidak dapat dipertahankan dari perputaran zaman. Namun disayangkan, surau kayu tersebut yang pernah menjadi basis pendidikan Islam, yang menjadi salah satu pilar sejarah itu habis usia karena kebakaran. Entah apa sebabnya. Beberapa orang mencoba melerai api dengan menyelamatkan benda-benda yang terdapat pada surau tersebut, sebelum semuanya jadi abu. Maka beberapa benda dilempar dari atas surau melewati celah, apakah pintu atau jendela. Ketika itu bertaburanlah kitab-kitab tulisan tangan (yang dikenal dengan istilah ‘naskah’ dan ‘manuskrip’) di halaman surau. Beberapa orang yang menyaksikan menyelamatkan kitab-kitab tua itu. Tak banyak kitab-kitab itu bterselamatkan. Di antaranya di simpan di Balai Gurah. Koleksi itulah yang dapat saya cermati dalam perjalanan saya waktu itu.

Foto: Saya, naskah-naskah Tuanku Samiak dan tumpukan kitab-kitab di Balai Gurah, Ampek Angkek. (feb 2013)

Foto: Kondisi Naskah koleksi Tuanku Samiak

Foto: Satu naskah tebal koleksi Tuanku Samiak
1. Teks Ta’bir (Takwil) Gempa dalam naskah-naskah Tuanku Samiak Biaro
Dipenghujung tahun lalu (2012), Yusri Akhimuddin, dosen sekaligus peneliti manuskrip dari STAIN Batusangkar, menyelesaikan magister Filologi di UIN Syarif Hidayatullah, dengan yudisium cum laude. Yusri mengangkat ‘naskah-naskah takwil (ta’bir) gempa’ dalam tesisnya. Ia telah menginventaris 16 teks takwil gempa dari berbagai wilayah di Indonesia, mulai dari Aceh sampai Cirebon, dan yang mendominasi yaitu wilayah Minangkabau. Naskah-naskah takwil gempa Minangkabau berasal dari berbagai surau, seperti Surau Ulakan, Surau Lubuak Ipuah, Surau Malalo dan lain-lainnya, di mana surau-surau tersebut berada di daerah rantau dan pesisir, dan terikat kuat dengan tradisi tarekat Syatariyah.
Di temukannya 2 teks Takwil Gempa dalam koleksi naskah peninggalan Tuanku Samiak menambah jumlah teks takwil gempa di Minangkabau (ketika Tesis Yusri rampung belum ditemukan). Namun uniknya, 2 teks takwil gempa tersebut di temukan di darek, di mana komunitas tarekat Naqsyabandiyah lebih mendominasi.

Foto: salah satu teks Takwil Gempa dari koleksi naskah Tuanku Samiak
Teks Takwil Gempat versi Biaro ini terdapat pada kulit kitab, pertama pada kulit kitab (naskah) tafsir, kedua kitab (naskah) Minhaj al-Talibin.
2. Perihal nama-nama yang baik untuk anak
Dalam satu bagian, yaitu pertengahan naskah Minhaj al-Talibin (Fiqih Syafi’iyyah), terselip dua halaman mengenai petunjuk pemberian nama-nama yang baik terhadap anak. Pemberian nama-nama itu dikaitkan dengan bulan lahirnya. Misalnya bulan Ramadhan, maka nama yang baik diberikan ialah si polan, si polan, si polan… dst. Nama-nama yang tercantum dalam teks itu terdiri dari nama-nama Nabi, istri-istri Nabi dan lainnya. Informasi ini cukup menarik.
3. Mazhab Syafi’I: Imam Nawawi, Jalaluddin Suyuthi dan Jalaluddin Mahalli
Koleksi naskah Tuanku Samiak yang saya amati, sebagaimana naskah-naskah keagamaan di surau-surau lain di Minangkabau, menunjukkan eksistensi Mazhab Syafi’I yang kuat. Hal ini tercermin dari pemakaian kitab-kitab karangan ulama-ulama kenamaan Syafi’iyyah, seperti Imam Nawawi, Imam Suyuthi dan Imam Mahalli.
Imam Nawawi menyusun kitab fiqih yang sangat popular di dalam dunia Islam, yaitu Minhaj al-Talibin, yang dari dulu di pakai luas, hingga sekarang tetap menjadi literature wajib ilmu Fiqih pada madrasah-madrasah dan universitas di berbagai belahan dunia, khususnya di Minangkabau.

Foto: Halaman terakhir naskah Tafsir koleksi Tuanku Samiak
Imam Suyuthi dikenal luas, salah satunya dengan tafsir yang ditulisnya bersama Imam Mahalli. Tafsir itu sangat fenomenal, yaitu Tafsir Jalalain, artinya tafsir dari dua Jalaluddin. Kedua ulama ini sangat masyhur dalam dunia Islam.
Imam Mahalli menulis komentar (syarah) yang menjelaskan kitab Minhaj al-Talibin Imam Nawawi. Komentar ini juga sangat populer. Yaitu berjudul Tuhfat al-Raghibin Syarah Minhaj al-Talibin, atau di surau-surau lebih dikenal dengan nama ‘kitab Mahalli’, pelajaran tingkat takhassus.
Karya-karya ulama-ulama tersebutlah yang menjadi koleksi Tuanku Samiak yang saya saksikan. Dalam koleksi itu ada Minhaj, ada Jalalain, pastinya menurut garis Mazhab Syafi’i.
Al-Qur’an tulisan tangan
Jika naskah-naskah koleksi Tuanku Samiak lain dalam format besar dan tebal-tebal, kali ini ditemui naskah ukuran saku, berupa al-Qur’an tulisan tangan. Konon saya dengar cerita-cerita dari beberapa orang surau, al-Qur’an tulisan tangan dulu itu mempunyai rahasia dalam penulisannya. Ketika saya tanyakan, mereka menjawab, pada ayat ‘wal yatalattaf’ (pertengahan al-Qur’an, pada surat al-Kahfi) terdapat ukir-ukiran yang bila dilihat dengan kaca pembesar akan ditemui tulisan-tulisan kecil berupa ‘Ismul A’zham’. Itulah sebabnya banyak penjaja-penjaja naskah di beberapa daerah mati-matian memburu-buru manuskrip al-Qur’an, karma nilai jualnya mahal. Begitu ungkapan orang-orang tersebut. Namun, ketika saya balik-balik pada surat al-Kahfi, kalimat ‘wal yatallaf’ ditulis biasa saja, tidak ada tanda, baik dipinggir atau lainnya. Meski tidak menemui apa yang diceritakan itu, saya besar dugaan terdapat keunikan lain dalam naskah ini, apakah dari segi ‘rasam’ atau ‘qira’at’ yang dipakai dalam penulisannya.

Foto: Naskah al-Qur'an koleksi Tuanku Samiak Biaro.
Demikian ziarah saya ke Balai Gurah, Ampek Angkek, 2 minggu lalu.
Ampang, Kuranji, Padang.
Al-Faqir
Beberapa waktu yang lalu saya sempat diajak untuk melihat kitab-kitab tua di Ampek Angkek (Bukittinggi), Luak Agam. Di sana ke dapatanlah beberapa naskah tua yang ternyata berasal dari kepunyaan Tuanku Syekh Samiak Ilmiyah di Biaro. Tuanku Syekh tersebut ialah salah seorang ulama kenamaan di abad 19. Bertempat di Biaro, beliau mendirikan sebuah surau yang kemudian masyhur di kalangan ‘urang-urang siak’ (santri) dari berbagai daerah di Minangkabau. Di surau ini dulunya, Syekh Sulaiman ar-Rasuli Candung (1871-1970), salah seorang ulama terkemuka Minangkabau abad 20, pernah menimba ilmu agama.
Surau Tuanku Samiak ini tetap berdiri hingga akhir abad 20, meski pelajaran agama seperti masa Tuanku Syekh tersebut tidak dapat dipertahankan dari perputaran zaman. Namun disayangkan, surau kayu tersebut yang pernah menjadi basis pendidikan Islam, yang menjadi salah satu pilar sejarah itu habis usia karena kebakaran. Entah apa sebabnya. Beberapa orang mencoba melerai api dengan menyelamatkan benda-benda yang terdapat pada surau tersebut, sebelum semuanya jadi abu. Maka beberapa benda dilempar dari atas surau melewati celah, apakah pintu atau jendela. Ketika itu bertaburanlah kitab-kitab tulisan tangan (yang dikenal dengan istilah ‘naskah’ dan ‘manuskrip’) di halaman surau. Beberapa orang yang menyaksikan menyelamatkan kitab-kitab tua itu. Tak banyak kitab-kitab itu bterselamatkan. Di antaranya di simpan di Balai Gurah. Koleksi itulah yang dapat saya cermati dalam perjalanan saya waktu itu.
Foto: Saya, naskah-naskah Tuanku Samiak dan tumpukan kitab-kitab di Balai Gurah, Ampek Angkek. (feb 2013)
Foto: Kondisi Naskah koleksi Tuanku Samiak
Foto: Satu naskah tebal koleksi Tuanku Samiak
1. Teks Ta’bir (Takwil) Gempa dalam naskah-naskah Tuanku Samiak Biaro
Dipenghujung tahun lalu (2012), Yusri Akhimuddin, dosen sekaligus peneliti manuskrip dari STAIN Batusangkar, menyelesaikan magister Filologi di UIN Syarif Hidayatullah, dengan yudisium cum laude. Yusri mengangkat ‘naskah-naskah takwil (ta’bir) gempa’ dalam tesisnya. Ia telah menginventaris 16 teks takwil gempa dari berbagai wilayah di Indonesia, mulai dari Aceh sampai Cirebon, dan yang mendominasi yaitu wilayah Minangkabau. Naskah-naskah takwil gempa Minangkabau berasal dari berbagai surau, seperti Surau Ulakan, Surau Lubuak Ipuah, Surau Malalo dan lain-lainnya, di mana surau-surau tersebut berada di daerah rantau dan pesisir, dan terikat kuat dengan tradisi tarekat Syatariyah.
Di temukannya 2 teks Takwil Gempa dalam koleksi naskah peninggalan Tuanku Samiak menambah jumlah teks takwil gempa di Minangkabau (ketika Tesis Yusri rampung belum ditemukan). Namun uniknya, 2 teks takwil gempa tersebut di temukan di darek, di mana komunitas tarekat Naqsyabandiyah lebih mendominasi.
Foto: salah satu teks Takwil Gempa dari koleksi naskah Tuanku Samiak
Teks Takwil Gempat versi Biaro ini terdapat pada kulit kitab, pertama pada kulit kitab (naskah) tafsir, kedua kitab (naskah) Minhaj al-Talibin.
2. Perihal nama-nama yang baik untuk anak
Dalam satu bagian, yaitu pertengahan naskah Minhaj al-Talibin (Fiqih Syafi’iyyah), terselip dua halaman mengenai petunjuk pemberian nama-nama yang baik terhadap anak. Pemberian nama-nama itu dikaitkan dengan bulan lahirnya. Misalnya bulan Ramadhan, maka nama yang baik diberikan ialah si polan, si polan, si polan… dst. Nama-nama yang tercantum dalam teks itu terdiri dari nama-nama Nabi, istri-istri Nabi dan lainnya. Informasi ini cukup menarik.
3. Mazhab Syafi’I: Imam Nawawi, Jalaluddin Suyuthi dan Jalaluddin Mahalli
Koleksi naskah Tuanku Samiak yang saya amati, sebagaimana naskah-naskah keagamaan di surau-surau lain di Minangkabau, menunjukkan eksistensi Mazhab Syafi’I yang kuat. Hal ini tercermin dari pemakaian kitab-kitab karangan ulama-ulama kenamaan Syafi’iyyah, seperti Imam Nawawi, Imam Suyuthi dan Imam Mahalli.
Imam Nawawi menyusun kitab fiqih yang sangat popular di dalam dunia Islam, yaitu Minhaj al-Talibin, yang dari dulu di pakai luas, hingga sekarang tetap menjadi literature wajib ilmu Fiqih pada madrasah-madrasah dan universitas di berbagai belahan dunia, khususnya di Minangkabau.
Foto: Halaman terakhir naskah Tafsir koleksi Tuanku Samiak
Imam Suyuthi dikenal luas, salah satunya dengan tafsir yang ditulisnya bersama Imam Mahalli. Tafsir itu sangat fenomenal, yaitu Tafsir Jalalain, artinya tafsir dari dua Jalaluddin. Kedua ulama ini sangat masyhur dalam dunia Islam.
Imam Mahalli menulis komentar (syarah) yang menjelaskan kitab Minhaj al-Talibin Imam Nawawi. Komentar ini juga sangat populer. Yaitu berjudul Tuhfat al-Raghibin Syarah Minhaj al-Talibin, atau di surau-surau lebih dikenal dengan nama ‘kitab Mahalli’, pelajaran tingkat takhassus.
Karya-karya ulama-ulama tersebutlah yang menjadi koleksi Tuanku Samiak yang saya saksikan. Dalam koleksi itu ada Minhaj, ada Jalalain, pastinya menurut garis Mazhab Syafi’i.
Al-Qur’an tulisan tangan
Jika naskah-naskah koleksi Tuanku Samiak lain dalam format besar dan tebal-tebal, kali ini ditemui naskah ukuran saku, berupa al-Qur’an tulisan tangan. Konon saya dengar cerita-cerita dari beberapa orang surau, al-Qur’an tulisan tangan dulu itu mempunyai rahasia dalam penulisannya. Ketika saya tanyakan, mereka menjawab, pada ayat ‘wal yatalattaf’ (pertengahan al-Qur’an, pada surat al-Kahfi) terdapat ukir-ukiran yang bila dilihat dengan kaca pembesar akan ditemui tulisan-tulisan kecil berupa ‘Ismul A’zham’. Itulah sebabnya banyak penjaja-penjaja naskah di beberapa daerah mati-matian memburu-buru manuskrip al-Qur’an, karma nilai jualnya mahal. Begitu ungkapan orang-orang tersebut. Namun, ketika saya balik-balik pada surat al-Kahfi, kalimat ‘wal yatallaf’ ditulis biasa saja, tidak ada tanda, baik dipinggir atau lainnya. Meski tidak menemui apa yang diceritakan itu, saya besar dugaan terdapat keunikan lain dalam naskah ini, apakah dari segi ‘rasam’ atau ‘qira’at’ yang dipakai dalam penulisannya.
Foto: Naskah al-Qur'an koleksi Tuanku Samiak Biaro.
Demikian ziarah saya ke Balai Gurah, Ampek Angkek, 2 minggu lalu.
Ampang, Kuranji, Padang.
Al-Faqir
Rabu, 06 Februari 2013
Dari Ranah Minang ke Negeri Piramid, pergi sebagai “Orang Siak”, kembali sebagai “Orang Salafi (?)”: Dialektika keagamaan Minangkabau kontemporer
Oleh: al-Faqir Apria Putra
Bagi saya Mesir adalah idaman di masa kecil. Ketika umur masih belia, terdengar cerita-cerita menggugah semangat untuk belajar agama di sana. Berhalaqah di al-Azhar, bertemu masyaikh (para guru) yang besar-besar, berziarah ke makam Imam Syafi’i, Imam Syazili, Sayyid Ahmad Badawi dan sebagainya. Indah diingatan. Namun ketika hidup telah bejalan, ingatan masa kecil itu hanya sekedar pemanis dan pemujuk. Allah belum mengizinkan raga ini untuk menapaki negeri Fir’aun itu. Meskipun begitu, syukur tetap terucap, bahagia tetap terasa. Andaikan dulu saya ke Mesir tentu lain pula kejadiannya, lain pula yang berlaku, barangkali tidaklah saya akan bertemu dengan guru-guru besar di tanah Minangkabau ini. Hikmah semuanya terasa begitu dalam.
Peta: Negara Mesir (Sumber: Athlas Duwal al-'Alam al-Islami (DR Syauqi Abu Khalil) Damsyiq, Dar al-Fikr, 1997, h. 106)
Setelah masa berlanjut. Di rantau orang, saya mempunyai banyak teman keluaran al-Azhar. Ada yang sudah bertahun-tahun di sana, ada pula yang telah menyelesaikan tingkat ‘master’, yang sedang kandidat ‘doktor’, ada pula yang hanya menjadi pelancong-pelancong di negeri itu, pokoknya komplit. Dari mereka saya banyak menerima informasi tentang kegiatan para pelajar Indonesia, terutama pelajar Sumatera Barat, di Kairo. Informasi ini saya cocoknya dengan realita kehidupan keagamaan yang mereka bawa ke kampung halamannya masing-masing, yang cenderung mendapatkan benturan-benturan dengan praktek keagamaan setempat.
Mesir sejak abad-abad silam telah menjadi salah satu pusat pendidikan Islam yang ternama. Al-Azhar, tonggak kejayaan itu, telah tegak lebih dari seribu tahun yang lalu. Bagi orang-orang Minangkabau, al-Azhar seakan menjadi mutiara dari beberapa mutiara ilmu. Namun perlu kita ketahui, tidak banyak cacatan yang mengungkap keberadaan ‘orang-orang siak’ (baca: pelajar) kita di negeri tersebut sebelum masuk abad 20. Lokus keilmuan Islam yang terkemuka kala itu ialah Mekah. Meski begitu ada beberapa ulama Minangkabau yang bisa dikatakan sebagai generasi perintis ‘orang siak’ di Kairo, seperti Syekh Thaher Jalaluddin (1869-1956), Syekh Abbas Abdullah Padang Jopang (w. 1957) dan Syekh Janan Thaib Bukittinggi (w. Sekitar tahun 1950-an).
Syekh Thaher Jalaluddin, ulama besar Malaya kelahiran Ampek Angkek Bukittinggi. Beliau belajar ke Mesir setelah bertahun-tahun menimba ilmu di Mekah. Tepatnya tahun 1893. Setelah dari Mesir beliau menetap di Malaya, di sana hingga akhir hanyatnya beliau menapankan karir sebagai ulama ahli Falaq terkemuka. Syekh Abbas Abdullah Padang Jopang Payokumbuah, ulama terkemuka di Sumatera Tengah. Beliau merupakan anak dari Syekh Abdullah Beliau Surau Gadang yang mempunyai salah satu komplek pendidikan Islam yang besar di Payakumbuh. Sedangkan yang terakhir, Syekh Janan Thaib, ialah tokoh yang tercatat sebagai ulama besar yang berkarir di Mekah sampai akhir hayatnya. Ini di antara ulama-ulama Minangkabau yang pernah menimba ilmu di Mesir sebelum abad 20. Ketika memasuki abad baru, generasi Mahmud Yunus (Prof. Dr. Mahmud Yunus, tokoh pendidikan Islam Indonesia kelahiran Batusangkar) dapat dicatat sebagai pelanjut pelajar Minangkabau di Mesir, dan dimasa inilah pelajar-pelajar Minangkabau di Mesir mulai membludak.
Begitulah ‘orang siak’, pelajar Minangkabau di Mesir di masa awal. Mereka tetap selaku ‘orang siak’, sebagaimana ketika mereka pergi dulu. Keterikatan mazhab memang telah menjadi temali bagi pelajar-pelajar Minangkabau untuk belajar di Mesir kala itu. Sebagaimana di kampungnya mereka belajar Fiqih dengan mazhab Syafi’i, di sana mereka juga mendalami mazhab Syafi’i, dan pulang sebagai ulama Syafi’i. Bila mereka pergi sebagai seorang Ahlussunnah wal Jama’ah, di sana juga mendalami i’tikad Ahlussunnah wal Jama’ah, ketika pulang disematkan sebagai ulama Ahlussunnah wal Jama’ah. Meskipun ada gejolak pemikiran Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha dalam pikiran mereka, namun itu tidak sampai membutakan mata. Semua seperti awal, semua seperti apa yang telah diwariskan ulama-ulama Minangkabau tempo dulu. Begitulah yang kita temui ketika membaca kitab-kitab karangan ulama-ulama tersebut, apakah karangan dari Syekh Thaher Jalaluddin, Syekh Janan Thaib, Prof. Mahmud Yunus dan lain-lainnya.
Setelah beberapa dasawarsa berlalu. Berbagai hal dan kejadian terjadi. Perang dunia, peningkatan petrodolar negara-negara berkembang, penguasaan Wahabi akan Hijaz dan lainnya, terdapat kecenderungan berbeda dari ‘orang-orang siak’, pelajar-pelajar Minangkabau yang belajar di Mesir ketika pula ke tanah airnya. Hal ini kentara kita rasakan beberapa dasawarsa terakhir. Pulang sebagai pelajar Mesir tentu menjadi tuah sendiri. Orang-orang kampung merasa bangga tiada terkira. Di lihat ‘orang siak’ yang dilepas beberapa tahun yang lalu telah pulang sebagai ‘alim. Ada yang bercemiri, ada yang berjubah, ada yang pulang dengan kitab segudang. Meski kebanggaan dalam hati, besar dikira-kira akan membangun kampung dengan pelajaran agama, namun apa kejadian? Di kampung, alumni-alumni tersebut mengungkap bid’ah amalan-amalan ulama Minangkabau. Katanya: “bapak ibuk telah mengikut buta saja kerja ulama-ulama silam yang tidak berdalil itu. Bapak ibuk telah taqlid, dan taqlid itu tidak boleh.”, “ini haram dan bid’ah”. Zikir jama’ah, tahlil, meniga hari dan menseratus hari kematian adalah pekerjaan bid’ah dan sesat. Hingga sampai terdengar-dengar ejekan terhadap ulama-ulama Minangkabau di masa silam, seperti “Syekh anu, Syekh polan, Syekh fulan, apa hebatnya? Mereka tak tahu dan tak mengerti hadis yang sesungguhnya.” Sambil meneput dada, “saya”.
Mengapa hal ini bisa terjadi dikalangan pelajar dan ‘orang siak’ Minangkabau yang kembali dari Mesir dewasa ini?
Teman-teman saya memberikan informasi senada: “Mesir itu sama saja dengan negeri kita ini. Kalau di negeri kita berbagai-bagai fahamnya, ada yang cenderung kesalafi-salafian dengan mengekor Wahabi, ada yang suka membid’ah-bid’ahkan, ada pula yang netral, ada yang nasionalis, dan ada yang tetap teguh memegang faham ulama-ulama yang silam. Begitu pula di Mesir. Keadaannya seperti itu juga.”
Berbeda dengan mahasiswa Jawa, dan lainnya yang sebahagian besar pulang sebagai muslim moderat dan tetap perpegang sebagai faham semula, Mahasiswa Minangkabau di Mesir saat ini dapat dibedakan kepada 3 kelompok. Pertama, mereka yang terpengaruh oleh ide Wahabi. Kelompok inilah yang pulang ke Minangkabau menjadi corong pembid’ahan praktek keagamaan di kampung halamannya. Mereka menggunakan atribut ‘salaf’ menurut yang mereka pahami sendiri; menyokong pemikiran tokoh Wahabi Muhammad Nasiruddin al-Bani dan rekan-rekannya. Kedua, kelompok pelajar yang cenderung kepada pergerakan ‘Ikhwan al-Muslimin’. Kelompok ini tampak bertentangan dengan kelompok pertama. Dan ketiga, kelompok pelajar diluar kelompok Wahabi dan ‘Ikhwan al-Muslimin’ di atas.
Dimanakah pelajar-pelajar Minang di Mesir belajar Wahabi?
Sebenarnya Universitas al-Azhar ialah lebih menekan sikap moderat, terutama dalam menyikapi berbedaan (khilafiyah). Namun, berdasarkan informasi yang kita terima, pelajar-pelajar Minangkabau yang menciut berfaham Wahabi disebabkan mereka gandrung mengikuti halaqah-halaqah yang diasuh oleh murid-murid Albani di luar al-Azhar, seperti halaqah pengajian Abu Ishaq al-Huwaini dan lainnya. Di sinilah mereka ditempa oleh faham yang sedemikian, hingga mainstrem mereka menjadi tegap terhadap faham itu. Apalagi bagi pelajar-pelajar Minang yang sebelum ke Mesir tidak digembleng secara khusus, tentu dengan mudah beberapa senior mereka di Mesir mengajaknya untuk mengikuti halaqah seperti di atas. Sangat mudah kita mengerti jiwa pelajar-pelajar Minangkabau, meskipun Dr. Ali Jum’ah telah memberikan beberapa sinyalmen terhadap kelompok-kelompok radikal, namun beberapa pelajar telah terkontaminasi, dan itu yang mereka bawa pulang dengan penuh percaya diri.
Memang tidak semua pelajar Minang seperti itu, namun kebanyakan yang kita lihat pulang dengan membuat benturan dengan ulama-ulama lokal sambil berteriak bahwa ulama lokal tersebut tidak faham al-Qur’an dan Hadis, taqlid terhadap tradisi-tradisi jahiliyah, tanpa terlebih dahulu menengok lebih dalam.
Sesuatu yang ironis memang. Pelajar-pelajar yang diharapkan mampu menyambung lisan ulama silam, malah pulang sebagai lawan dari ulama-ulama silam. Alangkah ngeri kita. Namun bagaimanapun, kehadiran pelajar-pelajar yang telah berganti baju menjadi Salafi (?) telah membuka mata. Betapa kita di Minangkabau telah lama terlelap, dan nyenyak. Kehadiran mereka telah membangunkan kita yang terlelap, hingga kita mampu duduk, berdiri, mengembang kembali kitab, membuka dalil, memperkokoh hujjah sebagai ulama-ulama dulu menentang “Kaum Muda”. Niscaya kita tunjukkan bahwa pusaka yang diturunkan oleh ulama-ulama silam dulu ialah al-Qur’an dan Sunnah, dibingkai dalam mazhab Syafi’i, tersimpulkan dalam Ahlussunnah wal Jama’ah, sebagai disebutkan oleh Imam-imam kenamaan, Asy’ari dan Maturidi.
Sungai Antuan, 6 Februari 2013.
Bagi saya Mesir adalah idaman di masa kecil. Ketika umur masih belia, terdengar cerita-cerita menggugah semangat untuk belajar agama di sana. Berhalaqah di al-Azhar, bertemu masyaikh (para guru) yang besar-besar, berziarah ke makam Imam Syafi’i, Imam Syazili, Sayyid Ahmad Badawi dan sebagainya. Indah diingatan. Namun ketika hidup telah bejalan, ingatan masa kecil itu hanya sekedar pemanis dan pemujuk. Allah belum mengizinkan raga ini untuk menapaki negeri Fir’aun itu. Meskipun begitu, syukur tetap terucap, bahagia tetap terasa. Andaikan dulu saya ke Mesir tentu lain pula kejadiannya, lain pula yang berlaku, barangkali tidaklah saya akan bertemu dengan guru-guru besar di tanah Minangkabau ini. Hikmah semuanya terasa begitu dalam.
Peta: Negara Mesir (Sumber: Athlas Duwal al-'Alam al-Islami (DR Syauqi Abu Khalil) Damsyiq, Dar al-Fikr, 1997, h. 106)
Setelah masa berlanjut. Di rantau orang, saya mempunyai banyak teman keluaran al-Azhar. Ada yang sudah bertahun-tahun di sana, ada pula yang telah menyelesaikan tingkat ‘master’, yang sedang kandidat ‘doktor’, ada pula yang hanya menjadi pelancong-pelancong di negeri itu, pokoknya komplit. Dari mereka saya banyak menerima informasi tentang kegiatan para pelajar Indonesia, terutama pelajar Sumatera Barat, di Kairo. Informasi ini saya cocoknya dengan realita kehidupan keagamaan yang mereka bawa ke kampung halamannya masing-masing, yang cenderung mendapatkan benturan-benturan dengan praktek keagamaan setempat.
Mesir sejak abad-abad silam telah menjadi salah satu pusat pendidikan Islam yang ternama. Al-Azhar, tonggak kejayaan itu, telah tegak lebih dari seribu tahun yang lalu. Bagi orang-orang Minangkabau, al-Azhar seakan menjadi mutiara dari beberapa mutiara ilmu. Namun perlu kita ketahui, tidak banyak cacatan yang mengungkap keberadaan ‘orang-orang siak’ (baca: pelajar) kita di negeri tersebut sebelum masuk abad 20. Lokus keilmuan Islam yang terkemuka kala itu ialah Mekah. Meski begitu ada beberapa ulama Minangkabau yang bisa dikatakan sebagai generasi perintis ‘orang siak’ di Kairo, seperti Syekh Thaher Jalaluddin (1869-1956), Syekh Abbas Abdullah Padang Jopang (w. 1957) dan Syekh Janan Thaib Bukittinggi (w. Sekitar tahun 1950-an).
Syekh Thaher Jalaluddin, ulama besar Malaya kelahiran Ampek Angkek Bukittinggi. Beliau belajar ke Mesir setelah bertahun-tahun menimba ilmu di Mekah. Tepatnya tahun 1893. Setelah dari Mesir beliau menetap di Malaya, di sana hingga akhir hanyatnya beliau menapankan karir sebagai ulama ahli Falaq terkemuka. Syekh Abbas Abdullah Padang Jopang Payokumbuah, ulama terkemuka di Sumatera Tengah. Beliau merupakan anak dari Syekh Abdullah Beliau Surau Gadang yang mempunyai salah satu komplek pendidikan Islam yang besar di Payakumbuh. Sedangkan yang terakhir, Syekh Janan Thaib, ialah tokoh yang tercatat sebagai ulama besar yang berkarir di Mekah sampai akhir hayatnya. Ini di antara ulama-ulama Minangkabau yang pernah menimba ilmu di Mesir sebelum abad 20. Ketika memasuki abad baru, generasi Mahmud Yunus (Prof. Dr. Mahmud Yunus, tokoh pendidikan Islam Indonesia kelahiran Batusangkar) dapat dicatat sebagai pelanjut pelajar Minangkabau di Mesir, dan dimasa inilah pelajar-pelajar Minangkabau di Mesir mulai membludak.
Begitulah ‘orang siak’, pelajar Minangkabau di Mesir di masa awal. Mereka tetap selaku ‘orang siak’, sebagaimana ketika mereka pergi dulu. Keterikatan mazhab memang telah menjadi temali bagi pelajar-pelajar Minangkabau untuk belajar di Mesir kala itu. Sebagaimana di kampungnya mereka belajar Fiqih dengan mazhab Syafi’i, di sana mereka juga mendalami mazhab Syafi’i, dan pulang sebagai ulama Syafi’i. Bila mereka pergi sebagai seorang Ahlussunnah wal Jama’ah, di sana juga mendalami i’tikad Ahlussunnah wal Jama’ah, ketika pulang disematkan sebagai ulama Ahlussunnah wal Jama’ah. Meskipun ada gejolak pemikiran Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha dalam pikiran mereka, namun itu tidak sampai membutakan mata. Semua seperti awal, semua seperti apa yang telah diwariskan ulama-ulama Minangkabau tempo dulu. Begitulah yang kita temui ketika membaca kitab-kitab karangan ulama-ulama tersebut, apakah karangan dari Syekh Thaher Jalaluddin, Syekh Janan Thaib, Prof. Mahmud Yunus dan lain-lainnya.
Setelah beberapa dasawarsa berlalu. Berbagai hal dan kejadian terjadi. Perang dunia, peningkatan petrodolar negara-negara berkembang, penguasaan Wahabi akan Hijaz dan lainnya, terdapat kecenderungan berbeda dari ‘orang-orang siak’, pelajar-pelajar Minangkabau yang belajar di Mesir ketika pula ke tanah airnya. Hal ini kentara kita rasakan beberapa dasawarsa terakhir. Pulang sebagai pelajar Mesir tentu menjadi tuah sendiri. Orang-orang kampung merasa bangga tiada terkira. Di lihat ‘orang siak’ yang dilepas beberapa tahun yang lalu telah pulang sebagai ‘alim. Ada yang bercemiri, ada yang berjubah, ada yang pulang dengan kitab segudang. Meski kebanggaan dalam hati, besar dikira-kira akan membangun kampung dengan pelajaran agama, namun apa kejadian? Di kampung, alumni-alumni tersebut mengungkap bid’ah amalan-amalan ulama Minangkabau. Katanya: “bapak ibuk telah mengikut buta saja kerja ulama-ulama silam yang tidak berdalil itu. Bapak ibuk telah taqlid, dan taqlid itu tidak boleh.”, “ini haram dan bid’ah”. Zikir jama’ah, tahlil, meniga hari dan menseratus hari kematian adalah pekerjaan bid’ah dan sesat. Hingga sampai terdengar-dengar ejekan terhadap ulama-ulama Minangkabau di masa silam, seperti “Syekh anu, Syekh polan, Syekh fulan, apa hebatnya? Mereka tak tahu dan tak mengerti hadis yang sesungguhnya.” Sambil meneput dada, “saya”.
Mengapa hal ini bisa terjadi dikalangan pelajar dan ‘orang siak’ Minangkabau yang kembali dari Mesir dewasa ini?
Teman-teman saya memberikan informasi senada: “Mesir itu sama saja dengan negeri kita ini. Kalau di negeri kita berbagai-bagai fahamnya, ada yang cenderung kesalafi-salafian dengan mengekor Wahabi, ada yang suka membid’ah-bid’ahkan, ada pula yang netral, ada yang nasionalis, dan ada yang tetap teguh memegang faham ulama-ulama yang silam. Begitu pula di Mesir. Keadaannya seperti itu juga.”
Berbeda dengan mahasiswa Jawa, dan lainnya yang sebahagian besar pulang sebagai muslim moderat dan tetap perpegang sebagai faham semula, Mahasiswa Minangkabau di Mesir saat ini dapat dibedakan kepada 3 kelompok. Pertama, mereka yang terpengaruh oleh ide Wahabi. Kelompok inilah yang pulang ke Minangkabau menjadi corong pembid’ahan praktek keagamaan di kampung halamannya. Mereka menggunakan atribut ‘salaf’ menurut yang mereka pahami sendiri; menyokong pemikiran tokoh Wahabi Muhammad Nasiruddin al-Bani dan rekan-rekannya. Kedua, kelompok pelajar yang cenderung kepada pergerakan ‘Ikhwan al-Muslimin’. Kelompok ini tampak bertentangan dengan kelompok pertama. Dan ketiga, kelompok pelajar diluar kelompok Wahabi dan ‘Ikhwan al-Muslimin’ di atas.
Dimanakah pelajar-pelajar Minang di Mesir belajar Wahabi?
Sebenarnya Universitas al-Azhar ialah lebih menekan sikap moderat, terutama dalam menyikapi berbedaan (khilafiyah). Namun, berdasarkan informasi yang kita terima, pelajar-pelajar Minangkabau yang menciut berfaham Wahabi disebabkan mereka gandrung mengikuti halaqah-halaqah yang diasuh oleh murid-murid Albani di luar al-Azhar, seperti halaqah pengajian Abu Ishaq al-Huwaini dan lainnya. Di sinilah mereka ditempa oleh faham yang sedemikian, hingga mainstrem mereka menjadi tegap terhadap faham itu. Apalagi bagi pelajar-pelajar Minang yang sebelum ke Mesir tidak digembleng secara khusus, tentu dengan mudah beberapa senior mereka di Mesir mengajaknya untuk mengikuti halaqah seperti di atas. Sangat mudah kita mengerti jiwa pelajar-pelajar Minangkabau, meskipun Dr. Ali Jum’ah telah memberikan beberapa sinyalmen terhadap kelompok-kelompok radikal, namun beberapa pelajar telah terkontaminasi, dan itu yang mereka bawa pulang dengan penuh percaya diri.
Memang tidak semua pelajar Minang seperti itu, namun kebanyakan yang kita lihat pulang dengan membuat benturan dengan ulama-ulama lokal sambil berteriak bahwa ulama lokal tersebut tidak faham al-Qur’an dan Hadis, taqlid terhadap tradisi-tradisi jahiliyah, tanpa terlebih dahulu menengok lebih dalam.
Sesuatu yang ironis memang. Pelajar-pelajar yang diharapkan mampu menyambung lisan ulama silam, malah pulang sebagai lawan dari ulama-ulama silam. Alangkah ngeri kita. Namun bagaimanapun, kehadiran pelajar-pelajar yang telah berganti baju menjadi Salafi (?) telah membuka mata. Betapa kita di Minangkabau telah lama terlelap, dan nyenyak. Kehadiran mereka telah membangunkan kita yang terlelap, hingga kita mampu duduk, berdiri, mengembang kembali kitab, membuka dalil, memperkokoh hujjah sebagai ulama-ulama dulu menentang “Kaum Muda”. Niscaya kita tunjukkan bahwa pusaka yang diturunkan oleh ulama-ulama silam dulu ialah al-Qur’an dan Sunnah, dibingkai dalam mazhab Syafi’i, tersimpulkan dalam Ahlussunnah wal Jama’ah, sebagai disebutkan oleh Imam-imam kenamaan, Asy’ari dan Maturidi.
Sungai Antuan, 6 Februari 2013.
Rabu, 30 Januari 2013
Khazanah Pusaka Surau I: Koleksi Karya Syekh Muhammad Sa'ad al-Khalidi Mungka
Oleh: al-Faqir Apria Putra
al-Marhum Syekh Muhammad Sa'ad al-Khalidi Mungka Tuo (w. 1922) dikenal sebagai Syaikhul Masyaikh (guru sekalian ulama-ulama Minangkabau). Beliau selain diakui kealimannya, juga dikenal sebagai ulama nan produktif menelorkan karya. Sampai saat ini baru terdapat beebrapa karya beliau yang dapat diselamatkan, yaitu:
1). Irgham Unufil Muta'annitin fi Inkarihim Rabithah al-Washilin.
2). Tanbih al-Awam 'ala Taghrirat Ba'dhil Anam
3). Risalah al-Suyuf al-Maslul (terjemahan Melayu terhadap karya Ulama Madinah mengenai Tarekat Naqsyabandiyah)
4). Risalah mengenai Ushalli (Manuskrip)
5). Beberapa buah sya'ir bahasa Arab, di antaranya disematkan kepada Syekh Ahmad Baruah Gunuang dan Syekh Salim Bayua Maninjau.
Foto: Teks asli tulisan Syekh Mungka, yang berjudul "Tanbih al-Awam"
Foto: Beberapa sya'ir tulisan tangan Syekh Mungka.
al-Marhum Syekh Muhammad Sa'ad al-Khalidi Mungka Tuo (w. 1922) dikenal sebagai Syaikhul Masyaikh (guru sekalian ulama-ulama Minangkabau). Beliau selain diakui kealimannya, juga dikenal sebagai ulama nan produktif menelorkan karya. Sampai saat ini baru terdapat beebrapa karya beliau yang dapat diselamatkan, yaitu:
1). Irgham Unufil Muta'annitin fi Inkarihim Rabithah al-Washilin.
2). Tanbih al-Awam 'ala Taghrirat Ba'dhil Anam
3). Risalah al-Suyuf al-Maslul (terjemahan Melayu terhadap karya Ulama Madinah mengenai Tarekat Naqsyabandiyah)
4). Risalah mengenai Ushalli (Manuskrip)
5). Beberapa buah sya'ir bahasa Arab, di antaranya disematkan kepada Syekh Ahmad Baruah Gunuang dan Syekh Salim Bayua Maninjau.
Foto: Teks asli tulisan Syekh Mungka, yang berjudul "Tanbih al-Awam"
Foto: Beberapa sya'ir tulisan tangan Syekh Mungka.
Minggu, 30 Desember 2012
Keadaan Minangkabau Dahulu dan Sekarang
Oleh yang mulia Syekh Sulaiman ar-Rasuli (1871-1970).
Ditransliterasi oleh al-Faqir Apria Putra, Mei 2011, dari artikel Maulana Syekh pada Majalah al-Mizan (bertuliskan Arab Melayu), No. 1, 15 Muharram 1357/ 16 Maret 1938. Transliterasi ini pernah diterbitkan sebagai lampiran pada buku “Bibliografi Karya Ulama Minangkabau” (Apria Putra, dkk., 2011).
[Transliterasi ini tidak utuh, beberapa bagian tidak diupload]
(Foto sebelah: Maulana Sjech Sulaiman ar-Rasuli al-Syafi'i al-Khalidi Naqsyabandi Canduang diusia senjanya. Sumber foto: Ust. Dzul Ashfi Raihan, Lc., S.Si.)
Pada tahun hijriyah 1309 (1889, Pen) kita mulai menjadi penuntut [ilmu agama. Pen], ketika itu maka kita mulai melayangkan pemandangan arah keseluruh Minangkabau dan kelilingnya maka kedapatanlah bahwa di Minangkabau dan kelilingnya sudah juga tersiar dan terpakai sekalian perintah-perintah agama, maupun yang berhubungan dengan ashal (pokok-pokok) seperti iman dan i’tiqat Ahlussunnah wal Jama’ah, ataupun yang berhubung dengan furu’ (cabang) seperti sembahyang, puasa dan sebagainya. Mulai dari yangs sekecil-kecilnya seperti tahnik (menyuapi anak-anak yang umurnya tujuh hari) sampai kepada yang sebesar-besarnya, seperti sembahyang, zakat, haji, puasa dan seumpamanya. Sekalipun diantara penduduk Minangkabau dan kelilingnya ada juga sebagian yang tidak mau bertunduk dibawah perintah agama, tetapi mereka dipandang oleh umum sebagai orang bersalah. Sedang mereka sendiri mengaku bahwa mereka sendiri mengaku bahwa mereka bersalah kepada Tuhan seru sekalian alam.
Kemudian kita layangkan pemandangan kita kepada guru-guru alim ulama yang sebagai suluh benderang, cermin terus dalam nagari. Maka kedapatanlah bahwa mereka tidak banyak berkata-kata, tetapi banyak bekerja, sedang bilangan mereka tidak pula begitu banyak, hingga diperoleh disetengah negeri di Minangkabau dan kelilingnya tidak mempunyai guru (alim ulama).
Dan kalau mereka ditanya orang satu masalah, apa hukumnya ini tuan? Maka mereka jawab ini haram umpamanya, dengan tidak menyebutkan kitab itu kitab ini apalagi akan menerangkan ayat Qur’an dan Hadist Nabi, Ijma’ dan Qiyas tempat mengambil hukum tersebut. Tetapi penjawaban mereka yang begitu pendek terus menerus diamalkan oleh yang bertanya hingga tidak dilupa-lupakan lagi. Bak pepatah orang disini, kok malam jadi selimut, kok siang ka jadi tongkat.
Kemudian kita layangkan lagi pemandangan kita kepada kitab-kitab agama yang ada pada waktu tersebut maka kedapatan pulalah bahwa di Minangkabau dan kelilingnya tidak ada kitab-kitab fiqih selain Minhajut Thalibin karangan yang mulia Imam Nawawi rahimahullahi ta’ala. Maka dengan kitab itulah orang Minangkabau dan kelilingnya tahu beribadah kepada Allah dan pandai berjual beli, pagang gadai, upah mengupah dan sebagainya yang bersangkut dengan penghidupan secara yang diperintahkan Allah dan Rasul. Dan dengan kitab itu juga orang Minangkabau dan kelilingnya tahu nikah, thalaq, ruju’ dan sebagainya yang secara kehendak islam. Begitu pula hukum mehukum, dakwa, jawab saksi dan bayyinah, pendeknya segala perintah-perintah agama tidak dapat diketahui orang Minangkabau dan kelilingnya melainkan dalam kitab Minhajut Thalibin yang tersebut sekalipun Qur’an dan Tafsir sudah ada tetapi guru-guru yang ada pada masa ini tidak pernah melihat hukum-hukum kedalam Qur’an hanya cukup dengan melihat kitab Minhajut Thalibin tersebut saja.
Dan kalau tumbuh kejadian dalam negeri umpamanya perkara talaq dan sebagainya maka mereka tidak berpedoman, malah dengan kitab tersebut dan mana-mana yang musykil dilihat saja Syarah Minhaj tersebut seperti Mahalli, Tuhfah, Nihayah dan Mughni. Dan kita tidak dengar kitab itu kitab Subulus Salam,, Nailul Authar, I’lamul Muwaqi’in,, Bidayatul Mujtahid dan lain-lain. Sehingga kalau kita pergi ketempat-tempat penuntut (surau yang ramai) tidaklah kita perdapat disitu malah Minhajul Thalibiin tersebut pada bicara fiqih, dan Jalalain pada bicara tafsir, dan Matan Jurumiyah dan Syarah Syekh Khalid pada bicara nahwu, sedang pada kita sendiri sudah kejadian hal semacam itu waktu kita mulai menuntut.
…………………………
Maka sekarang marilah sama-sama kita layangkan pemandangan kita arah keseluruh minangkabau dan kelilingnya supaya dapat sama-sama kita ketahui bagaimana perbedaan antara masa dahulu dan masa sekarang yang biasa disebut masa kemajuan. Perhatikanlah, berapa banyaknya kitab-kitab agama sekarang, bukan saja keluaran Mekah, Madinah dan Mesir, tetapi keluaran Minangkabau pun tidak pula berketinggalan. Dan perhatikan pulalah berapa pula banyaknya guru-guru masa sekarang, hingga sebahagian dari pada mereka tidak dapat mengajar karena sudah banyak kelebihan.
Dan perhatikan pulalah berapa banyak penyebaran agama masa sekarang dengan mengadakan tabligh-tabligh, lezing-lezing pada tiap-tiap tempat, dan mengarang majalah-majalah (surat-surat khabar) yang bersangkut dengan agama, bukan saja dikarang dengan huruf Arab, tetapi banyak dikarang dengan huruf latin supaya umum dapat membaca. Dan perhatikan pulalah bagaimana banyaknya madrasah-madrasah (tempat belajar agama) dan kemana kita berjalan jarang yang tidak kelihatan rumah sekolah agama. Dan perhatikan pulalah bagaimana bagusnya karangan-karangan guru-guru masa sekarang, hingga tiap-tiap masalah dihiasi dengan ayat-ayat Qur’an, Hadits nabi SAW, sedang pada awalnya tidak pula berketinggalan menerangkan siapa pengarang dan apa pangkatnya dan diploma mana dan lain-lain sebagainya, hingga gambar-gambar beliau yang sangat menggembirakan dan menarok tidak pula berketinggalan dilukiskan pada awal kitab beliau. Dan perhatikan pulalah bagai mana pintar-pintarnya guru sekarang memasukkan pelajaran ke dalam hati sanubari umum, bukan saja dengan bahasa Minangkabau, tetapi banyak pula kedengaran bahasa-bahasa asing yang dimasukkan waktu tabligh-tabligh dan dalam majalah-majalah seperti yang tak tersembunyi lagi bagi umum, terkadang-kadang ada pula yang sampai mengelirukan faham orang di kampung-kampung yang belum mengetahui bahasa apa itu?
Maka sekarang mari pulalah sama-sama kita selidiki dalam-dalam apakah yang terbit di Minangkabau dan sekelilingnya semenjak banyak kitab-kitab, sekolah-sekolah agama, tablig-tablig, lezing-lezing, dan majalah-majalah (surat-surat khabar) yang bersangkut dengan agama? dan apakah yang terjadi semenjak bagusnya kitab-kitab agama, dan kata-kata yang terpakai untuk pemasukan rasa agama ke dalam hati umum? adakah orang-orang umum bertambah ta’at kepada Allah dan Rasul? dan adakah amalan umum bertambah banyak dari yang dahulu? tuan-tuan pembaca boleh menimbang sendiri .
Tetapi menurut penyelidikan kita yang amat pendek ini, adalah yang terbit di minangkabau dan kelilingnya semenjak keadaan bertukar dan semenjak bagusnya kata-kata yang dipakai buat pelalukan agama kepada awam lain tidak hanya saja berpecah belah bermusuh-musuhan putus silaturahim antara satu sama lain. Perhatikanlah betapa banyaknya anak-anak durhaka kepada bapak dan murid-murid kepada guru, dan perhatikan pula lah berapa banyak perbantahan dalam tiap-tiap kampung tiap-tiap negri dan tiap-tiap rumah. Untuk buktinya banyak Jum’at yang diduakan urang lantaran perselisihan antara penduduk negeri dan banyak rumah yang satu sampai dibatas di tengah-tengah sebab perselisihan juga, sebelah rumah berqunut yang sebelah tidak.
Dan kalau kita periksa sekali lagi tak ubahnya Minangkabau dan sekelilingnya sekarang bak pepatah orang kita di sini, hari pahujan Bandar kering, padi menjadi beras mahal, maksud kata-kata itu tabligh banyak, lezing banyak, kitab banyak, guru-guru banyak, tetapi amalan dan ibadat bertambah kurang. Perhatikanlah pembagian harta meninggalan mayit dan tutup aurat perempuan yang masih terdiam pada masa yang silam, apa sudah terpakai sekarang? tentu belum juga dan perhatikan pula lah berapa banyaknya perintah-perintah agama yang sudah dikerjakan pada masa yang silam tetapi sekarang sudah pula ditinggalkan hingga tidak disangka-sangka lagi bahwa amalan-amalan itu perintah agama juga, seumpama sembahyang istisqa’ (mintak hujan). Apabila kekurangan air pada masa dahulu, kalau tumbuh kekurangan air, tidak kurang-kurangnya manusia berhimpun-himpun ke tengah padang sengaja sembahyang istisqa’ (mintak hujan). Begitu juga sembahyang jenazah (mayit), maka jikalau tumbuh kematian dalam satu-satu negeri berduyun-duyunlah sekalian orang yang dipandang ahli agama datang menyembahyangkan jenazah. Tetapi kalau kita lihat sekarang jarang sekali orang sembahyang istisqa’ (mintak hujan) dan kalau kita lihat pula apabila kematian dalam satu negeri bukan main payahnya ahli mayit mencahari orang yang akan menyembahyangkan jenazahnya, terkadang diperdapat barang dua atau tiga orang untuk pembayarkan fardhu kifayah saja. Apa sembahyang istisqa’ dan jenazah itu bid’ah pula? atau kebanyakan guru-guru sekarang tidak pandai sebab waktu habis untuk belajar vak umum ?
Maka kita pikirkan pula apa akan terjadi pada masa belakang, amatlah sedih hati kita.
Oleh karena itu kita serahkan saja kepada tuan-tuan pembaca. Hanya kita berdo’a kepada Allah subhanahu wa ta’ala, mudah-mudahan janganlah hendaknya terjadi hal yang tidak baik dan kita me[ng]ucapkan Inna lillaahi wa inna [ilaihi] raji’un.
-Wassalam- (Maulana Syech Sulaiman ar-Rasuli al-Syafi'i al-Khalidi Naqsyabandi)
Ditransliterasi oleh al-Faqir Apria Putra, Mei 2011, dari artikel Maulana Syekh pada Majalah al-Mizan (bertuliskan Arab Melayu), No. 1, 15 Muharram 1357/ 16 Maret 1938. Transliterasi ini pernah diterbitkan sebagai lampiran pada buku “Bibliografi Karya Ulama Minangkabau” (Apria Putra, dkk., 2011).
[Transliterasi ini tidak utuh, beberapa bagian tidak diupload]
(Foto sebelah: Maulana Sjech Sulaiman ar-Rasuli al-Syafi'i al-Khalidi Naqsyabandi Canduang diusia senjanya. Sumber foto: Ust. Dzul Ashfi Raihan, Lc., S.Si.)
Pada tahun hijriyah 1309 (1889, Pen) kita mulai menjadi penuntut [ilmu agama. Pen], ketika itu maka kita mulai melayangkan pemandangan arah keseluruh Minangkabau dan kelilingnya maka kedapatanlah bahwa di Minangkabau dan kelilingnya sudah juga tersiar dan terpakai sekalian perintah-perintah agama, maupun yang berhubungan dengan ashal (pokok-pokok) seperti iman dan i’tiqat Ahlussunnah wal Jama’ah, ataupun yang berhubung dengan furu’ (cabang) seperti sembahyang, puasa dan sebagainya. Mulai dari yangs sekecil-kecilnya seperti tahnik (menyuapi anak-anak yang umurnya tujuh hari) sampai kepada yang sebesar-besarnya, seperti sembahyang, zakat, haji, puasa dan seumpamanya. Sekalipun diantara penduduk Minangkabau dan kelilingnya ada juga sebagian yang tidak mau bertunduk dibawah perintah agama, tetapi mereka dipandang oleh umum sebagai orang bersalah. Sedang mereka sendiri mengaku bahwa mereka sendiri mengaku bahwa mereka bersalah kepada Tuhan seru sekalian alam.
Kemudian kita layangkan pemandangan kita kepada guru-guru alim ulama yang sebagai suluh benderang, cermin terus dalam nagari. Maka kedapatanlah bahwa mereka tidak banyak berkata-kata, tetapi banyak bekerja, sedang bilangan mereka tidak pula begitu banyak, hingga diperoleh disetengah negeri di Minangkabau dan kelilingnya tidak mempunyai guru (alim ulama).
Dan kalau mereka ditanya orang satu masalah, apa hukumnya ini tuan? Maka mereka jawab ini haram umpamanya, dengan tidak menyebutkan kitab itu kitab ini apalagi akan menerangkan ayat Qur’an dan Hadist Nabi, Ijma’ dan Qiyas tempat mengambil hukum tersebut. Tetapi penjawaban mereka yang begitu pendek terus menerus diamalkan oleh yang bertanya hingga tidak dilupa-lupakan lagi. Bak pepatah orang disini, kok malam jadi selimut, kok siang ka jadi tongkat.
Kemudian kita layangkan lagi pemandangan kita kepada kitab-kitab agama yang ada pada waktu tersebut maka kedapatan pulalah bahwa di Minangkabau dan kelilingnya tidak ada kitab-kitab fiqih selain Minhajut Thalibin karangan yang mulia Imam Nawawi rahimahullahi ta’ala. Maka dengan kitab itulah orang Minangkabau dan kelilingnya tahu beribadah kepada Allah dan pandai berjual beli, pagang gadai, upah mengupah dan sebagainya yang bersangkut dengan penghidupan secara yang diperintahkan Allah dan Rasul. Dan dengan kitab itu juga orang Minangkabau dan kelilingnya tahu nikah, thalaq, ruju’ dan sebagainya yang secara kehendak islam. Begitu pula hukum mehukum, dakwa, jawab saksi dan bayyinah, pendeknya segala perintah-perintah agama tidak dapat diketahui orang Minangkabau dan kelilingnya melainkan dalam kitab Minhajut Thalibin yang tersebut sekalipun Qur’an dan Tafsir sudah ada tetapi guru-guru yang ada pada masa ini tidak pernah melihat hukum-hukum kedalam Qur’an hanya cukup dengan melihat kitab Minhajut Thalibin tersebut saja.
Dan kalau tumbuh kejadian dalam negeri umpamanya perkara talaq dan sebagainya maka mereka tidak berpedoman, malah dengan kitab tersebut dan mana-mana yang musykil dilihat saja Syarah Minhaj tersebut seperti Mahalli, Tuhfah, Nihayah dan Mughni. Dan kita tidak dengar kitab itu kitab Subulus Salam,, Nailul Authar, I’lamul Muwaqi’in,, Bidayatul Mujtahid dan lain-lain. Sehingga kalau kita pergi ketempat-tempat penuntut (surau yang ramai) tidaklah kita perdapat disitu malah Minhajul Thalibiin tersebut pada bicara fiqih, dan Jalalain pada bicara tafsir, dan Matan Jurumiyah dan Syarah Syekh Khalid pada bicara nahwu, sedang pada kita sendiri sudah kejadian hal semacam itu waktu kita mulai menuntut.
…………………………
Maka sekarang marilah sama-sama kita layangkan pemandangan kita arah keseluruh minangkabau dan kelilingnya supaya dapat sama-sama kita ketahui bagaimana perbedaan antara masa dahulu dan masa sekarang yang biasa disebut masa kemajuan. Perhatikanlah, berapa banyaknya kitab-kitab agama sekarang, bukan saja keluaran Mekah, Madinah dan Mesir, tetapi keluaran Minangkabau pun tidak pula berketinggalan. Dan perhatikan pulalah berapa pula banyaknya guru-guru masa sekarang, hingga sebahagian dari pada mereka tidak dapat mengajar karena sudah banyak kelebihan.
Dan perhatikan pulalah berapa banyak penyebaran agama masa sekarang dengan mengadakan tabligh-tabligh, lezing-lezing pada tiap-tiap tempat, dan mengarang majalah-majalah (surat-surat khabar) yang bersangkut dengan agama, bukan saja dikarang dengan huruf Arab, tetapi banyak dikarang dengan huruf latin supaya umum dapat membaca. Dan perhatikan pulalah bagaimana banyaknya madrasah-madrasah (tempat belajar agama) dan kemana kita berjalan jarang yang tidak kelihatan rumah sekolah agama. Dan perhatikan pulalah bagaimana bagusnya karangan-karangan guru-guru masa sekarang, hingga tiap-tiap masalah dihiasi dengan ayat-ayat Qur’an, Hadits nabi SAW, sedang pada awalnya tidak pula berketinggalan menerangkan siapa pengarang dan apa pangkatnya dan diploma mana dan lain-lain sebagainya, hingga gambar-gambar beliau yang sangat menggembirakan dan menarok tidak pula berketinggalan dilukiskan pada awal kitab beliau. Dan perhatikan pulalah bagai mana pintar-pintarnya guru sekarang memasukkan pelajaran ke dalam hati sanubari umum, bukan saja dengan bahasa Minangkabau, tetapi banyak pula kedengaran bahasa-bahasa asing yang dimasukkan waktu tabligh-tabligh dan dalam majalah-majalah seperti yang tak tersembunyi lagi bagi umum, terkadang-kadang ada pula yang sampai mengelirukan faham orang di kampung-kampung yang belum mengetahui bahasa apa itu?
Maka sekarang mari pulalah sama-sama kita selidiki dalam-dalam apakah yang terbit di Minangkabau dan sekelilingnya semenjak banyak kitab-kitab, sekolah-sekolah agama, tablig-tablig, lezing-lezing, dan majalah-majalah (surat-surat khabar) yang bersangkut dengan agama? dan apakah yang terjadi semenjak bagusnya kitab-kitab agama, dan kata-kata yang terpakai untuk pemasukan rasa agama ke dalam hati umum? adakah orang-orang umum bertambah ta’at kepada Allah dan Rasul? dan adakah amalan umum bertambah banyak dari yang dahulu? tuan-tuan pembaca boleh menimbang sendiri .
Tetapi menurut penyelidikan kita yang amat pendek ini, adalah yang terbit di minangkabau dan kelilingnya semenjak keadaan bertukar dan semenjak bagusnya kata-kata yang dipakai buat pelalukan agama kepada awam lain tidak hanya saja berpecah belah bermusuh-musuhan putus silaturahim antara satu sama lain. Perhatikanlah betapa banyaknya anak-anak durhaka kepada bapak dan murid-murid kepada guru, dan perhatikan pula lah berapa banyak perbantahan dalam tiap-tiap kampung tiap-tiap negri dan tiap-tiap rumah. Untuk buktinya banyak Jum’at yang diduakan urang lantaran perselisihan antara penduduk negeri dan banyak rumah yang satu sampai dibatas di tengah-tengah sebab perselisihan juga, sebelah rumah berqunut yang sebelah tidak.
Dan kalau kita periksa sekali lagi tak ubahnya Minangkabau dan sekelilingnya sekarang bak pepatah orang kita di sini, hari pahujan Bandar kering, padi menjadi beras mahal, maksud kata-kata itu tabligh banyak, lezing banyak, kitab banyak, guru-guru banyak, tetapi amalan dan ibadat bertambah kurang. Perhatikanlah pembagian harta meninggalan mayit dan tutup aurat perempuan yang masih terdiam pada masa yang silam, apa sudah terpakai sekarang? tentu belum juga dan perhatikan pula lah berapa banyaknya perintah-perintah agama yang sudah dikerjakan pada masa yang silam tetapi sekarang sudah pula ditinggalkan hingga tidak disangka-sangka lagi bahwa amalan-amalan itu perintah agama juga, seumpama sembahyang istisqa’ (mintak hujan). Apabila kekurangan air pada masa dahulu, kalau tumbuh kekurangan air, tidak kurang-kurangnya manusia berhimpun-himpun ke tengah padang sengaja sembahyang istisqa’ (mintak hujan). Begitu juga sembahyang jenazah (mayit), maka jikalau tumbuh kematian dalam satu-satu negeri berduyun-duyunlah sekalian orang yang dipandang ahli agama datang menyembahyangkan jenazah. Tetapi kalau kita lihat sekarang jarang sekali orang sembahyang istisqa’ (mintak hujan) dan kalau kita lihat pula apabila kematian dalam satu negeri bukan main payahnya ahli mayit mencahari orang yang akan menyembahyangkan jenazahnya, terkadang diperdapat barang dua atau tiga orang untuk pembayarkan fardhu kifayah saja. Apa sembahyang istisqa’ dan jenazah itu bid’ah pula? atau kebanyakan guru-guru sekarang tidak pandai sebab waktu habis untuk belajar vak umum ?
Maka kita pikirkan pula apa akan terjadi pada masa belakang, amatlah sedih hati kita.
Oleh karena itu kita serahkan saja kepada tuan-tuan pembaca. Hanya kita berdo’a kepada Allah subhanahu wa ta’ala, mudah-mudahan janganlah hendaknya terjadi hal yang tidak baik dan kita me[ng]ucapkan Inna lillaahi wa inna [ilaihi] raji’un.
-Wassalam- (Maulana Syech Sulaiman ar-Rasuli al-Syafi'i al-Khalidi Naqsyabandi)
Jumat, 23 November 2012
Penguatan Eksistensi Tasawuf di Minangkabau di tengah Modernisasi awal abad XX: Kajian terhadap Nazam Usiat
Oleh: al-Faqir Apria Putra
Tulisan ini disari dari Makalah penulis pada Seminar Analisis Teks dan Konteks Naskah Klasik Keagamaan, Badan Litbang dan Lektur Keagamaan, Departemen Agama RI. Hotel Aryadura, Lippo Karawaci, Tanggerang, Banten. 21-23 November 2012
Naskah Nazam Usiat merupakan salah satu karya tasawuf yang lahir di tengah arus modernisasi agama yang dilancarkan oleh ulama-ulama modernis di Minangkabau awal abad XX. Naskah ini ditulis dengan gaya naz{m, sebuah gaya penulisan yang digandrungi oleh ulama, urang siak (istilah untuk santri di Minangkabau) dan masyarakat di lingkungan surau, yang mengindikasikan bahwa teks ini ditujukan bagi kaum muslimin di Minangkabau yang dikenal kental menganut tasawuf. Aspek lokalitas, seperti pemilihan diksi dalam bertutur, kalimat-kalimat hiperbola, dan yang terpenting sasaran yang dibidik dibalik untaian bait-bait nazam Usiat membuat naskah ini menarik untuk dicermati secara mendalam.
Naskah berisi tentang tasawuf yang digolongkan pada tasawuf akhlaqi. Empat halaman pertama berisi catatan-catatan khusus berupa catatan hari baik dan buruk mendirikan rumah, zikir-zikir dalam tarekat Naqshabandiyah dan sebuah tabel yang berisi penentuan awal tiap-tiap bulan Arab. Pada halaman terakhir juga berisi tentang catatan berupa syarat-syarat membuat azimat (rajah) dan kaifiyat mendirikan rumah.
NNU ditulis dalam bentuk nazam atau nalam. Nazam ini dikenal juga dengan sya’ir Melayu. Sya’ir ialah empat baris kalimat yang sama bunyi ujungnya, terdiri dari beberapa suku kata yang sama setiap barisnya. Penulisan dalam bentuk Nazam ini banyak dipengaruhi oleh unsur-unsur sastra Arab.
Di Minangkabau, ber-nazham (ber-sya’ir) merupakan satu tradisi khas dari ulama-ulama surau. Dalam memberikan pelajaran dasar kepada urang siak, ulama-ulama surau mengarang sya’ir-sya’ir untuk memudahkan penghafalan, selain itu berguna untuk menyemangati murid-murid dengan bersenandung bersama-sama ketika belajar. Selain itu gaya bersya’ir juga digunakan untuk menjelaskan kisah perjalanan, riwayat dan ilmu tasawuf yang tinggi-tinggi. Hal ini membuktikan betapa ber-nazham (ber-sya’ir) menempati posisi penting paling tidak dalam dunia tulis menulis kala itu.
Naskah Nazam Usiat merupakan naskah tunggal (codex unicus). Sejauh penelusuran penulis terhadap naskah lain, meliputi katalog, koleksi masyarakat maupun museum, tidak ditemukan varian dari NNU. Karena itu NNU yang menjadi salah satu koleksi Mesjid Shaykh Muhammad Sa’id Bonjol ini menjadi satu-satunya sumber yang dijadikan objek penelitian.
NNU tergolong naskah anonymous, karena tidak terdapat informasi ataupun indikasi teks mengenai pengarangnya. Meskipun demikian dipastikan bahwa NNU ditulis oleh seorang ulama karena dalam teks terdapat rujukan-rujukan berupa kitab-kitab yang tergolong pelik, seperti al-Hikam karya Ibnu ‘Atha’illah al-Sukandari dan Ihya’ Ulum al-Din karya al-Ghazali . Selain itu, NNU diindikasikan sebagai naskah salinan dari sebuah teks yang lebih tua, karena terdapat beberapa kesalahan berupa hilangnya beberapa bait dalam teks.
NNU diawali dengan basmallah, dilanjutkan dengan ungkapan pujian:
Aku mulai dengan basmallah
Membuka barokah kepada Allah
Apa yang dimaksud jangan dirubah
Begitu kata habib al-rahmah
Al-Hamdu li-Allah segala puji
fakir yang hina bercampur ‘ummi
mengarangkan sya’ir maksud di hati
memintak tolong kepada Rabbi
salawaIz{ha (1906) , yang mendeskreditkan amalan tarekat Naqshabandiyah. Tersebarnya risalah ini membuat perseteruan kedua kelompok ini semakin alot dan meluas kewilayah-wilayah khilafiyah. Khusus kritik mengenai corak tasawuf “martabat tujuh” yang dianggap tidak mendapat pijakan dari al-Qur’an dikemukakan oleh salah seorang ulama modernis terkemuka DR. Shaykh ‘Abd al-Karim Amrullah/ Haji Rasul (w. 1944), ayah dari Buya Hamka, lewat karya polemisnya Qat{i’ Riqa
Haji Rasul, dalam risalahnya mengecam dengan pedas corak tasawuf ala “Martabat Tujuh” yang telah tersebar luas tersebut. Dalam tulisannya ini tak jarang ia menggunakan kata-kata kasar, seperti mengungkapkan bahwa ajaran ini sebagai “dongeng fantasi saja dari kaum-kaum yang berpura-pura bersufi-sufian.” Pada sampul karya ini dituliskan kalimat-kalimat yang jelas memojokkan ulama-ulama tradisional yang berpegang dengan “pengajian Martabat Tujuh” tersebut, yaitu ungkapan “Ini Risalah ialah pemagar diri, supaya jangan mudah ditipu oleh pembual-pembual dengan mulut manis dan sorban besar dan menjinjing tasbih memperdungu kebanyakan awam dengan menjual-jual Tarikat kosong dan bohong dan bid’ah pada agama.
Munculnya polemik keagamaan di awal abad XX, membawa pengaruh besar bukan hanya pada tatanan sosial masyarakat, juga pada ajaran-ajaran keagamaan yang berkembang. Perdebatan mengenai tasawuf memunculkan keiginan menanpilkan bentuk ajaran tasawuf yang lebih bisa diadopsi oleh semua kalangan. Tasawuf dengan corak “pengajian tubuh”, meskipun masih diwariskan oleh sebahagian ulama lokal, telah digantikan oleh ajaran tasawuf yang berorientasi pada perbaikan akhlak dengan menerapkan tahapan takhalli, tah{alli dan tajalli. Tasawuf dalam bentuk ini lebih bisa diterima daripada ajaran yang bergelut dengan simbol-simbol sufistik pelik seperti yang ditawarkan oleh ajaran “Martabat Tujuh”.
NNU mengelaborasi berbagai aspek tasawuf yang bertumpu pada perbaikan akhlak kemudian dikemas dengan bahasa, diksi dan ungkapan yang mudah dicerna. Dengan memperhatikan konten, dapat diindikasikan bahwa NNU hadir sebagai bentuk oposisi dari karya-karya tasawuf yang muncul pada abad-abad sebelumnya di mana aspek filosofis selalu ditonjolkan sehingga cenderung menimbulkan kebingungan sementara kalangan. Oposisi ini lahir dari keadaan lingkungan, yaitu perdebatan faham dan kecenderungan modernisasi, yang memberi pengaruh dalam penulisan karya-karya di masa ini. Perdebatan faham antara ulama Muda dan ulama Tua, terutama terkait tasawuf, menelurkan tasawuf akhlaqi yang kemudian menjadi alternatif di masa modern.
Menarik dikemukakan bahwa dalam menjelaskan berbagai macam term-tems akhlak, NNU selalu memulai dengan krtik tajam, bahkan celaan. Kitik dan celaan ini kemudian baru diiringi oleh nasehat-nasehat dengan mengajak pembacanya kembali kepada ajaran agama dan sifat-sifat terpuji. Satu topik yang mendominasi NNU ialah cerita tipu daya setan terhadap Adam dan Hawa, sehingga dikeluarkan dari syorga. NNU menegaskan jangan sampai “segala taulan” terbujuk olehnya hingga melepaskan pakaian ikhlas demi pangkat di dunia.
NNU mengajak meneladani ahli Hakikat dan ‘Arifin, dua gelar kepangkatan dalam terminologi tasawuf. Ahli Hakikat (muhaqqiqi
Ikhlas itu hendak yakini
Sun[y]ikan riya zhahir dan bathin
Berbuat amal hendaklah rajin
Ingat neraka supaya dingin
Ikhlas itu jangan disangka
Jangan sembahyang mengambil muka
Orang yang banyak supaya suka
Itu membawa masuk neraka
.............................................
Dengar olehmu taulan sahabat
Dengan ikhlas orang hakikat
Amalnya banyak mahujan lebat
Kepada Allah kasih hormat
Orang hakikat jikalau menyembah
Menzhahirkan diri tanda ubudiyah
Ma’rifatnya terus kepada Allah
Sekalian gerak anggota dan lidah
Sifat sidiq ubudiyah kehinaan
Inilah maqam orang arifin
Amalnya banyak upama hujan
Balas amalnya tidak diharapkan
Sangat jelas dalam bait nazm di atas bahwasanya menurut penulis orang hakikat itu adalah orang yang memiliki maqam yang tinggi. Mereka beribadah hanya untuk Allah, mereka tidak ingin amal ibadah mereka dikotori dan dirusak oleh hal-hal keduniaan. Begitu mulianya orang-orang hakikat, sangatlah pantas untuk dicontoh dan diikuti. Akan tetapi sebagian pandangan yang buruk terhadap orang-orang hakikat membuat sebagian masyarakat mengabaikan hal ini. Hal ini menurut penulis NNU hanyalah tipu daya setan, sesuatu yang baik dibuat menjadi buruk dan sesuatu yang buruk dibuat menjadi baik. Ibarat seorang perempuan yang telah tua dibuat menjadi cantik sehingga banyak orang yang tergoda dan terpedaya olehnya. Seperti ungkapan dalam bait nazm dengan penuh metafor berikut :
Syaithan iblis kuat sihirnya
Perempuan tua} dimukan(?)nya
Manusia melihat hilang akalnya
Hendak menikahi maksud hatinya
.........................................
Selama-lamanya elok unikan
Anak adam bingung tidak pikiran
Tidaknya tahu dikicuh syaithan
Perempuan tua di mudakan
............................................
Sudah bernikah baharu terkenal
Pipinya cakung giginyalah tanggal
Cirik matanya bergumpal-gumpal
Jadi bermenung tumbuhlah sesal
Dalam bait penuh jenaka atas, perilaku tercela, dalam konteks ini tidak berteladan kepada ahli Hakikat dan ‘Arifin serta mengabaikannya, diumpamakan sebagai perempuan tua yang telah disihir oleh syaithan menjadi perempuan yang cantik rupawan. Sehingga manusia menjadi tergila-gila hendak menikahinya, artinya ingin bersifat dengan sifat kecelaan tersebut. Ternyata sifat tercela yang dibungkus dengan segala keindahan itu hanya perangkap syaitan saja. ketika manusia tersebut mengetahui akan kebenaran (di akhirat), ia akan menyadari perilaku jelek yang ia “nikahi” diwaktu hidup dunia dulu, yang dulu indah menawann, tidak obahnya seperti perempuan tua yang kumal, di sini ia akan termenung penuh sesal. NNU pada bagian ini menggambarkannya dengan sangat jenaka, penuh dengan kekayaan imajinasi sebagaimana sifat pujangga-pujangga Minang lainnya.
Ciputat, 20 November 2012.
Tulisan ini disari dari Makalah penulis pada Seminar Analisis Teks dan Konteks Naskah Klasik Keagamaan, Badan Litbang dan Lektur Keagamaan, Departemen Agama RI. Hotel Aryadura, Lippo Karawaci, Tanggerang, Banten. 21-23 November 2012
Naskah Nazam Usiat merupakan salah satu karya tasawuf yang lahir di tengah arus modernisasi agama yang dilancarkan oleh ulama-ulama modernis di Minangkabau awal abad XX. Naskah ini ditulis dengan gaya naz{m, sebuah gaya penulisan yang digandrungi oleh ulama, urang siak (istilah untuk santri di Minangkabau) dan masyarakat di lingkungan surau, yang mengindikasikan bahwa teks ini ditujukan bagi kaum muslimin di Minangkabau yang dikenal kental menganut tasawuf. Aspek lokalitas, seperti pemilihan diksi dalam bertutur, kalimat-kalimat hiperbola, dan yang terpenting sasaran yang dibidik dibalik untaian bait-bait nazam Usiat membuat naskah ini menarik untuk dicermati secara mendalam.
Naskah berisi tentang tasawuf yang digolongkan pada tasawuf akhlaqi. Empat halaman pertama berisi catatan-catatan khusus berupa catatan hari baik dan buruk mendirikan rumah, zikir-zikir dalam tarekat Naqshabandiyah dan sebuah tabel yang berisi penentuan awal tiap-tiap bulan Arab. Pada halaman terakhir juga berisi tentang catatan berupa syarat-syarat membuat azimat (rajah) dan kaifiyat mendirikan rumah.
NNU ditulis dalam bentuk nazam atau nalam. Nazam ini dikenal juga dengan sya’ir Melayu. Sya’ir ialah empat baris kalimat yang sama bunyi ujungnya, terdiri dari beberapa suku kata yang sama setiap barisnya. Penulisan dalam bentuk Nazam ini banyak dipengaruhi oleh unsur-unsur sastra Arab.
Di Minangkabau, ber-nazham (ber-sya’ir) merupakan satu tradisi khas dari ulama-ulama surau. Dalam memberikan pelajaran dasar kepada urang siak, ulama-ulama surau mengarang sya’ir-sya’ir untuk memudahkan penghafalan, selain itu berguna untuk menyemangati murid-murid dengan bersenandung bersama-sama ketika belajar. Selain itu gaya bersya’ir juga digunakan untuk menjelaskan kisah perjalanan, riwayat dan ilmu tasawuf yang tinggi-tinggi. Hal ini membuktikan betapa ber-nazham (ber-sya’ir) menempati posisi penting paling tidak dalam dunia tulis menulis kala itu.
Naskah Nazam Usiat merupakan naskah tunggal (codex unicus). Sejauh penelusuran penulis terhadap naskah lain, meliputi katalog, koleksi masyarakat maupun museum, tidak ditemukan varian dari NNU. Karena itu NNU yang menjadi salah satu koleksi Mesjid Shaykh Muhammad Sa’id Bonjol ini menjadi satu-satunya sumber yang dijadikan objek penelitian.
NNU tergolong naskah anonymous, karena tidak terdapat informasi ataupun indikasi teks mengenai pengarangnya. Meskipun demikian dipastikan bahwa NNU ditulis oleh seorang ulama karena dalam teks terdapat rujukan-rujukan berupa kitab-kitab yang tergolong pelik, seperti al-Hikam karya Ibnu ‘Atha’illah al-Sukandari dan Ihya’ Ulum al-Din karya al-Ghazali . Selain itu, NNU diindikasikan sebagai naskah salinan dari sebuah teks yang lebih tua, karena terdapat beberapa kesalahan berupa hilangnya beberapa bait dalam teks.
NNU diawali dengan basmallah, dilanjutkan dengan ungkapan pujian:
Aku mulai dengan basmallah
Membuka barokah kepada Allah
Apa yang dimaksud jangan dirubah
Begitu kata habib al-rahmah
Al-Hamdu li-Allah segala puji
fakir yang hina bercampur ‘ummi
mengarangkan sya’ir maksud di hati
memintak tolong kepada Rabbi
salawa
Haji Rasul, dalam risalahnya mengecam dengan pedas corak tasawuf ala “Martabat Tujuh” yang telah tersebar luas tersebut. Dalam tulisannya ini tak jarang ia menggunakan kata-kata kasar, seperti mengungkapkan bahwa ajaran ini sebagai “dongeng fantasi saja dari kaum-kaum yang berpura-pura bersufi-sufian.” Pada sampul karya ini dituliskan kalimat-kalimat yang jelas memojokkan ulama-ulama tradisional yang berpegang dengan “pengajian Martabat Tujuh” tersebut, yaitu ungkapan “Ini Risalah ialah pemagar diri, supaya jangan mudah ditipu oleh pembual-pembual dengan mulut manis dan sorban besar dan menjinjing tasbih memperdungu kebanyakan awam dengan menjual-jual Tarikat kosong dan bohong dan bid’ah pada agama.
Munculnya polemik keagamaan di awal abad XX, membawa pengaruh besar bukan hanya pada tatanan sosial masyarakat, juga pada ajaran-ajaran keagamaan yang berkembang. Perdebatan mengenai tasawuf memunculkan keiginan menanpilkan bentuk ajaran tasawuf yang lebih bisa diadopsi oleh semua kalangan. Tasawuf dengan corak “pengajian tubuh”, meskipun masih diwariskan oleh sebahagian ulama lokal, telah digantikan oleh ajaran tasawuf yang berorientasi pada perbaikan akhlak dengan menerapkan tahapan takhalli, tah{alli dan tajalli. Tasawuf dalam bentuk ini lebih bisa diterima daripada ajaran yang bergelut dengan simbol-simbol sufistik pelik seperti yang ditawarkan oleh ajaran “Martabat Tujuh”.
NNU mengelaborasi berbagai aspek tasawuf yang bertumpu pada perbaikan akhlak kemudian dikemas dengan bahasa, diksi dan ungkapan yang mudah dicerna. Dengan memperhatikan konten, dapat diindikasikan bahwa NNU hadir sebagai bentuk oposisi dari karya-karya tasawuf yang muncul pada abad-abad sebelumnya di mana aspek filosofis selalu ditonjolkan sehingga cenderung menimbulkan kebingungan sementara kalangan. Oposisi ini lahir dari keadaan lingkungan, yaitu perdebatan faham dan kecenderungan modernisasi, yang memberi pengaruh dalam penulisan karya-karya di masa ini. Perdebatan faham antara ulama Muda dan ulama Tua, terutama terkait tasawuf, menelurkan tasawuf akhlaqi yang kemudian menjadi alternatif di masa modern.
Menarik dikemukakan bahwa dalam menjelaskan berbagai macam term-tems akhlak, NNU selalu memulai dengan krtik tajam, bahkan celaan. Kitik dan celaan ini kemudian baru diiringi oleh nasehat-nasehat dengan mengajak pembacanya kembali kepada ajaran agama dan sifat-sifat terpuji. Satu topik yang mendominasi NNU ialah cerita tipu daya setan terhadap Adam dan Hawa, sehingga dikeluarkan dari syorga. NNU menegaskan jangan sampai “segala taulan” terbujuk olehnya hingga melepaskan pakaian ikhlas demi pangkat di dunia.
NNU mengajak meneladani ahli Hakikat dan ‘Arifin, dua gelar kepangkatan dalam terminologi tasawuf. Ahli Hakikat (muhaqqiqi
Ikhlas itu hendak yakini
Sun[y]ikan riya zhahir dan bathin
Berbuat amal hendaklah rajin
Ingat neraka supaya dingin
Ikhlas itu jangan disangka
Jangan sembahyang mengambil muka
Orang yang banyak supaya suka
Itu membawa masuk neraka
.............................................
Dengar olehmu taulan sahabat
Dengan ikhlas orang hakikat
Amalnya banyak mahujan lebat
Kepada Allah kasih hormat
Orang hakikat jikalau menyembah
Menzhahirkan diri tanda ubudiyah
Ma’rifatnya terus kepada Allah
Sekalian gerak anggota dan lidah
Sifat sidiq ubudiyah kehinaan
Inilah maqam orang arifin
Amalnya banyak upama hujan
Balas amalnya tidak diharapkan
Sangat jelas dalam bait nazm di atas bahwasanya menurut penulis orang hakikat itu adalah orang yang memiliki maqam yang tinggi. Mereka beribadah hanya untuk Allah, mereka tidak ingin amal ibadah mereka dikotori dan dirusak oleh hal-hal keduniaan. Begitu mulianya orang-orang hakikat, sangatlah pantas untuk dicontoh dan diikuti. Akan tetapi sebagian pandangan yang buruk terhadap orang-orang hakikat membuat sebagian masyarakat mengabaikan hal ini. Hal ini menurut penulis NNU hanyalah tipu daya setan, sesuatu yang baik dibuat menjadi buruk dan sesuatu yang buruk dibuat menjadi baik. Ibarat seorang perempuan yang telah tua dibuat menjadi cantik sehingga banyak orang yang tergoda dan terpedaya olehnya. Seperti ungkapan dalam bait nazm dengan penuh metafor berikut :
Syaithan iblis kuat sihirnya
Perempuan tua} dimukan(?)nya
Manusia melihat hilang akalnya
Hendak menikahi maksud hatinya
.........................................
Selama-lamanya elok unikan
Anak adam bingung tidak pikiran
Tidaknya tahu dikicuh syaithan
Perempuan tua di mudakan
............................................
Sudah bernikah baharu terkenal
Pipinya cakung giginyalah tanggal
Cirik matanya bergumpal-gumpal
Jadi bermenung tumbuhlah sesal
Dalam bait penuh jenaka atas, perilaku tercela, dalam konteks ini tidak berteladan kepada ahli Hakikat dan ‘Arifin serta mengabaikannya, diumpamakan sebagai perempuan tua yang telah disihir oleh syaithan menjadi perempuan yang cantik rupawan. Sehingga manusia menjadi tergila-gila hendak menikahinya, artinya ingin bersifat dengan sifat kecelaan tersebut. Ternyata sifat tercela yang dibungkus dengan segala keindahan itu hanya perangkap syaitan saja. ketika manusia tersebut mengetahui akan kebenaran (di akhirat), ia akan menyadari perilaku jelek yang ia “nikahi” diwaktu hidup dunia dulu, yang dulu indah menawann, tidak obahnya seperti perempuan tua yang kumal, di sini ia akan termenung penuh sesal. NNU pada bagian ini menggambarkannya dengan sangat jenaka, penuh dengan kekayaan imajinasi sebagaimana sifat pujangga-pujangga Minang lainnya.
Ciputat, 20 November 2012.
Rabu, 17 Oktober 2012
ber-Nazham (bersya'ir): Tradisi mengaji di Surau Minangkabau
Oleh: al-Faqir Apria Putra
Hampir setiap sore terdengar lantunan nazham dari santri-santri, terdengar merdu dengan ritme dan alunan suara yang khas. Kadangkala mereka melantun nazham al-Baiquniyah, karya populer mengenai ilmu Mustalah Hadist, kadangkala nazam Adab al-Thullab, mengenai tata krama menuntut ilmu. Pada hari-hari tertentu dilantunkan nazham istighasah. Sungguh menarik, menggugah hati untuk kembali giat menuntut ilmu agama. Begitulah suasana di tempat saya tinggal, di rantau orang, persis di sebelah Darus Sunnah International Institute for Hadith Sciences, pondok pesantren Mahasiswa khusus pendalaman ilmu Hadist yang dipimpin oleh Prof. DR. KH. Ali Mustafa Ya’qub, imam besar Mesjid Istiqlal itu.
Seketika itu, teringat hati akan kampung halaman yang jauh di sana, Minangkabau. Demihal mendengar nazham-nazham santri Darus Sunnah, aku terkenang akan surau, akan kitab-kitab tua yang ku baca, dan orang-orang alim di Minangkabau dimasa lalu. Jika kita kembali ke surau, tidak berbeda keadaannya. Surau dengan segala hal ihwalnya telah menjadi lahan tumbuhnya tradisi-tadisi keagamaan yang luar biasa kayanya. Termasuk ber-nazham, dendang ilmu pengetahuan yang mengakar pada sistematika dan estetika sya’ir Arab.
Secara umum nazham (secara bahasa berarti susunan) hampir sama dengan sya’ir (dalam istilah sastra Arab dibaca Syi’ir). Ungkapan kalimat yang indah, mempunyai ritme, intonasi teratur dan susunan yang metris. Perbedaannya, Sya’ir lebih kepada ungkapan hati si-penggubah, disertai lompatan-lompatan khayal yang terangkum dalam kalimat yang penuh ungkapan majaz. Sedangkan nazham, meskipun disusun seperti halnya sya’ir Arab, namun muatannya bersifat ilmiah, sehingga seringkali nazham disebut dengan nazham ‘ilmi. Namun untuk konteks nusantara, Minangkabau khususnya, antara nazham dan sya’ir tidak terlalu dibedakan. Bisa saja istilah sya’ir untuk ungkapan bermuatan ilmiah, seperti Sya’ir Burung Nuri (pengajaran ilmu al-Qu’an), dan nazham untuk ungkapan yang penuh khayal seperti Nazham Kanak-kanak.
Ulama-ulama silam lebih senang menulis karya dibidang keilmuan agama dengan memakai susunan sastra, salah satunya nazham. Karya-karya ini biasanya ditujukan untuk penuntut-penuntut ilmu pemula. Karya-karya pemula ini dikenal dengan istilah matan. Tapi kita mesti tahu, bahwa walaupun karya-karya itu ditulis ringkas, biasanya para ulama silam memakai kalimat ringkas dan padat, serta simbol-simbol dalam karya itu, sehingga kalau satu karya itu di-syarah (diuraikan) bisa menjadi berjilid-jilid kitab. Banyak kitab matan dalam bentuk nazham yang tersebar di Nusantara, misalnya matan Zubad (fiqih), matan Alfiyah (gramatikal Arab), matan Baiquniyah (Ilmu Mustalah Hadist), Jauhar al-Maknun (Balaghah-Strilistika), ‘Imrithi (Nahwu), nazam al-Maqsud (Sharaf), matan Sullam (mantiq-Logika), ad-Durr al-Yatimah (Nahwu) dan lain-lainnya. Karakteristik Nazham ini sama, memakai susunan sya’ir dan ditulis dalam bahasa Arab.
Di Nusantara, selain diajarkan kitab-kitab matan di atas, para ulamanya juga mengadopsi gaya penulisan nazham Arab ini ke dalam tradisi lisan dan tulisan mereka. Tetap bernama nazham, namun telah memakai bahasa Melayu. Setidaknya ada beberapa aspek dari Nazham Arab yang melekat dalam Nazham Melayu, yaitu (1) tata letak penulisannya yang masih serupa dengan sya’ir dan nazham Arab, dengan memakai sathar awal (penggal pertama) dan satar akhir (penggal kedua), (2) memakai jumlah suku kata yang berjumlah sama antar bait, seperti taf’ilah pada Sya’ir Arab, (3) akhir suku kata tiap kalimat yang sama, seperti qawafi pada sya’ir Arab.
Kembali kita kepada Minangkabau. Di Minangkabau, ber-nazham (ber-sya’ir) merupakan
satu tradisi yang khas dari ulama-ulama surau. Dalam memberikan pelajaran dasar kepada orang-orang siak (baca: santri), ulama-ulama surau mengarang sya’ir-sya’ir untuk memudahkan penghafalan, selain itu berguna untuk menyemangati murid-murid dengan bersenandung bersama-sama ketika belajar. Selain itu gaya bersya’ir juga digunakan untuk menjelaskan kisah perjalanan, riwayat dan ilmu tasawuf yang tinggi-tinggi. Hal ini membuktikan betapa ber-nazham (ber-sya’ir) menempati posisi penting paling tidak dalam dunia tulis menulis kala itu. Kita dapat melihat bahwa betapa karya-karya sya’ir Syekh Daud Sunur Pariaman begitu digemari, sehingga dicetak berulang-ulang kali di berbagai tempat. Atau nazham-nazham karangan Labai Sidi Rajo Sungai Pua tetap dapat pasaran sampai saat ini. Dalam satu katalog kitab-kitab yang dijual di toko kitab Haji Ahmad Chalidi Bukittinggi pada awal abad XX, kita lihat betapa karya-karya sya’ir (nazham) mendominasi dibandingkan karya-karya prosa.
Kita dapat mencatat beberapa tokoh ulama besar Minangkabau yang menjadikan nazham sebagai tren karya-karyanya. Di abad XIX tersebut nama ulama terkemuka di Pariaman, Syekh Daud Sunur (kajian tentang sya’ir-sya’irnya telah dilakukan salah satunya oleh Suryadi, Leiden) yang menulis sya’ir populer, sya’ir Sunur dan sya’ir Mekah Madinah. Selain tokoh ini kita catat Syekh Isma’il al-Minangkabawi, ulama yang sukses berkarir di Mekah, beliau banyak menulis Nazham dalam bahasa Arab yang menunjukkan tingkat intelektualnya yang tidak bisa diabaikan. Di antara karyanya Nazham al-Miqat an-Naqsyabandi, Nazham Silsilah Naqsyabandi dan lainnya. Tokoh ulama besar lainnya, Syekh Jalaluddin Cangkiang, menulis Nazham menunjukkan tuah kebesaran Tuanku Koto Tuo. Dan yang terakhir yang kita catat, nazham-nazham Buya Mansuruddin Tuanku Bagindo Lubuak Ipuah, yang konon masih dibaca dan didendangkan oleh komunitas terbatas.
Pada awal abad XX terdapat banyak karya-karya Nazham kita temui. Tersedianya informasi yang banyak mengenai nazham-nazham ulama di awal abad XX ini disebabkan karena karya-karya itu dicetak dan diedarkan secara luar di berbagai daerah. Di sini kita catat karya-karya Nazham yang populer, seperti Nazham Darul Mau’izhah tertang apologetis tarekat Naqsyabandiyah karya Syekh Bayang, Nazham Thalaq al-Shalah karya Qasim Bakri Talawi, Nazham Sifat Dua Puluh yang ditulis oleh beberapa tokoh. Syamsul Hidayah karya Syekh Abdul Karim Amrullah. Salah satu ulama yang intens menulis dengan Nazham dalam karya-karyanya ialah Syekh Sulaiman ar-Rasuli Candung, diantaranya Kitab Enam Risalah, Dawa’ul Qulub, Tsamarat al-Ihsan, Sya’ir Yusuf dan Ya’qub dan lain-lainnya.
Ulama Tasawuf dan kegemaran ber-Nazham
Dalam beberapa manuskrip karya ulama Minangkabau kita temui berbagai nazham (sya’ir) yang ditulis dengan penuh keindahan. Nazham-nazham yang memiliki muatan yang“dalam”, penuh filosofi dan dirangkai dengan kata-kata indah tersebut biasanya ditulis oleh ulama-ulama sufi untuk menjelaskan pelajaran tasawuf.
Kita teringat dengan Sufi besar yang bermakam di Damaskus, yang digelari Syekh Akbar (Guru besar) dan Kibrit Ahmar (Belerang merah), yaitu Ibnu ‘Arabi. Sya’ir-sya’ir tasawuf-nya telah berpengaruh luas diberbagai belahan dunia, diakui bukan hanya para ulama juga para orientalis yang terpiut dengan karya ini, dan menjadi prestise reputasinya yang memang luar biasa. Sya’ir-sya’irnya sangat indah menawan, dirangkai dengan kata-kata yang indah, balaghi yang tinggi. Satu hal yang perlu digarisbawahi dari sya’ir-sya’ir yang sufi ini ialah ramziyyah (simbol) yang digunakan. Pembaca yang tidak mengerti akan “rumuz” (simbol) niscaya akan tersesat membaca karya-karyanya ini. oleh karena itu sampai saat ini masih banyak, baik para akademisi yang mencap Ibnu ‘Arabi sebagai tokoh yang ghulat (sesat), karena antologi sya’ir-nya Tarjuman al-Asywaq (diterbitkan oleh RA. Nicholson dalam The Tarjuman al-Ashwaq: a collection of Mystical odes by Muhyiddin Ibn ‘Arabi, 1911) yang dianggap menyimpang. Hamka sendiri dalam Tasawuf, Perkembangan dan Pemurniannya menyindir “pengajian” Ibn ‘Arabi dengan judul “cinta membawa larat”, beliau menyebut sang sufi sebagai pencetus panteis dengan teori wahdah al-wujud. Sampai dimana kebenaran ungkapan Hamka? Apakah Ibnu ‘Arabi meyakini bersatu dua zat yang berbeda??? Sudahkah Hamka membaca Dzakha’ir al-A’laq syarah Tarjuman al-Asywaq (terbit di Beirut, 1891) itu? Kita dapat menduga.
Hamzah Fansuri, Sufi besar Aceh sekaligus pujangga mistik Melayu sepanjang masa, juga dikenal dengan sya’ir-sya’ir-nya (nazham) yang penuh simbol, disusun dengan kata-kata sarat estetik dan bermakna dalam.
Dalam al-Hubb al-Ilahy fi Tasawuf Islamy, Dr. Muhammad Mustafa Hilmi menyebutkan sebab dibalik kegemaran ulama sufi menulis sya’ir yang indah-indah itu. Beliau mengemukan: “semuanya karna cinta”. Cinta kepada ilahi menjadi menjadi ghayah (tujuan) utama dari hidup kesufian. Cinta menjadikan semuanya indah. Dengan cara apapun, para sufi ingin menyampaikan keindahan-Nya itu, apakah tulisan-tulisan indah (kaligrafi), puisi-puisi menawan, untaian kata-kata indah bersayap yang penuh makna. Maka hadirnya karya-karya sastra sufi besar, antologi-antologi sya’ir dalam bertuk matsnawi, ruba’i, qashidah dan lainnya.
Begitu pula ulama-ulama sufi di Minangkabau, mereka cenderung bertutur dan menulis dengan kalimat-kalimat sastra; penuh simbol. Ulama-ulama yang produktif menulis nazham (sya’ir) di Minangkabau kebanyakannya ialah ulama-ulama tasawuf belaka. Di sini kita akan melihat 2 nazham yang sarat dengan estetik dan simbolik, yaitu Sya’ir Nuraniyyah Rabbaniyyah dan Sya’ir Ma’rifat.
Sya’ir Nuraniyyah Rabbaniyyah masih berupa manuskrip yang dtulis dengan Arab Melayu. Penulisannya di-nisbah-kan kepada seorang ulama sufi di Alahan Panjang, Tuanku Syekh Talang Babungo. Sya’ir ini menguraikan tasawuf tingkat tinggi (muntahi). Di antara cuplikan sya’irnya:
Wa fi dubdari alam sempurnanya
A’udzubillah penolak balanya
Bismillah itu hendak disya’irkannya
Supaya ‘asyiq segala saudaranya
Johan perkasa Syah(i) alam
Menentang qaba qausain pada siang dan malam
Ke bahrul adam ia tenggelam
Bijaksana dzuq-nya dalam
Tuanku daulat sultan andar (?) bangsawan
Masyhur terbilang lagi perempuan
Pengasih penyayang lagi pahlawan
Kepada ma’rifat jua tertawan
…………
Hendaklah kau pandang kapas dan kain
Bangsanya satu namanya berlain
Satukah allahumma zhahir dan batin
Itulah ilmu kesudahan main
…………
Hendaklah engkau pejamkan kedua matamu
Gilang gumilang rupa[m]u
Itulah cahaya karunia Tuhanmu
Bukannya cahaya tubuh dan nyawamu
Nur yaqin sangat cahayanya
Tanda cahaya dari pada sebenarnya
Anbiya’ dan auliya’ di sanalah hari rayanya
Lailatul qadar-pun namanya
……………
Sya’ir Ma’rifat Tuanku Aluma Koto Tuo, manuskrip salinan Tuanku Isma’il. Di dalamnya terlihat filosofi yang “dalam” dari sebuah sya’ir ulama Minangkabau:
……………
Jalan syari’at sebelum hiasi
Dimana dapat jalan mengingati
Dinding yang tebal sebelum hanci
Mustahil hamba dapat badami
Siapa tuan ma’rifat hakikat
Jalan yang panjang hendaklah lipat
Halus dan kasar jangat bertekat
Siapa sanang kita melompat
Pandang muntahi bukan melangkah
Hanyalah adam sempurna fanah
Dari pada mengingati sudahlah lengah
Tiada sana kenal mengenal[lah]
Patutlah ia bernama qadim
Halus dan kasar sudahlah licin
Dihadirat Allah hanya bermain
Apa kehendak sudahlah amin
Jalan syari’at sebelum terang
Diam disana jadi belarang
Tidak siapa tempat berpegang
Hanyalah amal tempat menompang
Maqam ma’rifat bukanlah begitu
Hanyalah wahid jamaknya satu
Zhahir dan batin pandangnya satu
Tiada berlarang diam disitu
…………
Begitulah ulama tasawuf mengepresikan keindahan dalam bait-bait penuh makna. Di mana menjadi sebuah tren kehidupan Surau Minangkabau di masa lalu.
Hampir setiap sore terdengar lantunan nazham dari santri-santri, terdengar merdu dengan ritme dan alunan suara yang khas. Kadangkala mereka melantun nazham al-Baiquniyah, karya populer mengenai ilmu Mustalah Hadist, kadangkala nazam Adab al-Thullab, mengenai tata krama menuntut ilmu. Pada hari-hari tertentu dilantunkan nazham istighasah. Sungguh menarik, menggugah hati untuk kembali giat menuntut ilmu agama. Begitulah suasana di tempat saya tinggal, di rantau orang, persis di sebelah Darus Sunnah International Institute for Hadith Sciences, pondok pesantren Mahasiswa khusus pendalaman ilmu Hadist yang dipimpin oleh Prof. DR. KH. Ali Mustafa Ya’qub, imam besar Mesjid Istiqlal itu.
Seketika itu, teringat hati akan kampung halaman yang jauh di sana, Minangkabau. Demihal mendengar nazham-nazham santri Darus Sunnah, aku terkenang akan surau, akan kitab-kitab tua yang ku baca, dan orang-orang alim di Minangkabau dimasa lalu. Jika kita kembali ke surau, tidak berbeda keadaannya. Surau dengan segala hal ihwalnya telah menjadi lahan tumbuhnya tradisi-tadisi keagamaan yang luar biasa kayanya. Termasuk ber-nazham, dendang ilmu pengetahuan yang mengakar pada sistematika dan estetika sya’ir Arab.
Secara umum nazham (secara bahasa berarti susunan) hampir sama dengan sya’ir (dalam istilah sastra Arab dibaca Syi’ir). Ungkapan kalimat yang indah, mempunyai ritme, intonasi teratur dan susunan yang metris. Perbedaannya, Sya’ir lebih kepada ungkapan hati si-penggubah, disertai lompatan-lompatan khayal yang terangkum dalam kalimat yang penuh ungkapan majaz. Sedangkan nazham, meskipun disusun seperti halnya sya’ir Arab, namun muatannya bersifat ilmiah, sehingga seringkali nazham disebut dengan nazham ‘ilmi. Namun untuk konteks nusantara, Minangkabau khususnya, antara nazham dan sya’ir tidak terlalu dibedakan. Bisa saja istilah sya’ir untuk ungkapan bermuatan ilmiah, seperti Sya’ir Burung Nuri (pengajaran ilmu al-Qu’an), dan nazham untuk ungkapan yang penuh khayal seperti Nazham Kanak-kanak.
Ulama-ulama silam lebih senang menulis karya dibidang keilmuan agama dengan memakai susunan sastra, salah satunya nazham. Karya-karya ini biasanya ditujukan untuk penuntut-penuntut ilmu pemula. Karya-karya pemula ini dikenal dengan istilah matan. Tapi kita mesti tahu, bahwa walaupun karya-karya itu ditulis ringkas, biasanya para ulama silam memakai kalimat ringkas dan padat, serta simbol-simbol dalam karya itu, sehingga kalau satu karya itu di-syarah (diuraikan) bisa menjadi berjilid-jilid kitab. Banyak kitab matan dalam bentuk nazham yang tersebar di Nusantara, misalnya matan Zubad (fiqih), matan Alfiyah (gramatikal Arab), matan Baiquniyah (Ilmu Mustalah Hadist), Jauhar al-Maknun (Balaghah-Strilistika), ‘Imrithi (Nahwu), nazam al-Maqsud (Sharaf), matan Sullam (mantiq-Logika), ad-Durr al-Yatimah (Nahwu) dan lain-lainnya. Karakteristik Nazham ini sama, memakai susunan sya’ir dan ditulis dalam bahasa Arab.
Di Nusantara, selain diajarkan kitab-kitab matan di atas, para ulamanya juga mengadopsi gaya penulisan nazham Arab ini ke dalam tradisi lisan dan tulisan mereka. Tetap bernama nazham, namun telah memakai bahasa Melayu. Setidaknya ada beberapa aspek dari Nazham Arab yang melekat dalam Nazham Melayu, yaitu (1) tata letak penulisannya yang masih serupa dengan sya’ir dan nazham Arab, dengan memakai sathar awal (penggal pertama) dan satar akhir (penggal kedua), (2) memakai jumlah suku kata yang berjumlah sama antar bait, seperti taf’ilah pada Sya’ir Arab, (3) akhir suku kata tiap kalimat yang sama, seperti qawafi pada sya’ir Arab.
Kembali kita kepada Minangkabau. Di Minangkabau, ber-nazham (ber-sya’ir) merupakan
satu tradisi yang khas dari ulama-ulama surau. Dalam memberikan pelajaran dasar kepada orang-orang siak (baca: santri), ulama-ulama surau mengarang sya’ir-sya’ir untuk memudahkan penghafalan, selain itu berguna untuk menyemangati murid-murid dengan bersenandung bersama-sama ketika belajar. Selain itu gaya bersya’ir juga digunakan untuk menjelaskan kisah perjalanan, riwayat dan ilmu tasawuf yang tinggi-tinggi. Hal ini membuktikan betapa ber-nazham (ber-sya’ir) menempati posisi penting paling tidak dalam dunia tulis menulis kala itu. Kita dapat melihat bahwa betapa karya-karya sya’ir Syekh Daud Sunur Pariaman begitu digemari, sehingga dicetak berulang-ulang kali di berbagai tempat. Atau nazham-nazham karangan Labai Sidi Rajo Sungai Pua tetap dapat pasaran sampai saat ini. Dalam satu katalog kitab-kitab yang dijual di toko kitab Haji Ahmad Chalidi Bukittinggi pada awal abad XX, kita lihat betapa karya-karya sya’ir (nazham) mendominasi dibandingkan karya-karya prosa.
Kita dapat mencatat beberapa tokoh ulama besar Minangkabau yang menjadikan nazham sebagai tren karya-karyanya. Di abad XIX tersebut nama ulama terkemuka di Pariaman, Syekh Daud Sunur (kajian tentang sya’ir-sya’irnya telah dilakukan salah satunya oleh Suryadi, Leiden) yang menulis sya’ir populer, sya’ir Sunur dan sya’ir Mekah Madinah. Selain tokoh ini kita catat Syekh Isma’il al-Minangkabawi, ulama yang sukses berkarir di Mekah, beliau banyak menulis Nazham dalam bahasa Arab yang menunjukkan tingkat intelektualnya yang tidak bisa diabaikan. Di antara karyanya Nazham al-Miqat an-Naqsyabandi, Nazham Silsilah Naqsyabandi dan lainnya. Tokoh ulama besar lainnya, Syekh Jalaluddin Cangkiang, menulis Nazham menunjukkan tuah kebesaran Tuanku Koto Tuo. Dan yang terakhir yang kita catat, nazham-nazham Buya Mansuruddin Tuanku Bagindo Lubuak Ipuah, yang konon masih dibaca dan didendangkan oleh komunitas terbatas.
Pada awal abad XX terdapat banyak karya-karya Nazham kita temui. Tersedianya informasi yang banyak mengenai nazham-nazham ulama di awal abad XX ini disebabkan karena karya-karya itu dicetak dan diedarkan secara luar di berbagai daerah. Di sini kita catat karya-karya Nazham yang populer, seperti Nazham Darul Mau’izhah tertang apologetis tarekat Naqsyabandiyah karya Syekh Bayang, Nazham Thalaq al-Shalah karya Qasim Bakri Talawi, Nazham Sifat Dua Puluh yang ditulis oleh beberapa tokoh. Syamsul Hidayah karya Syekh Abdul Karim Amrullah. Salah satu ulama yang intens menulis dengan Nazham dalam karya-karyanya ialah Syekh Sulaiman ar-Rasuli Candung, diantaranya Kitab Enam Risalah, Dawa’ul Qulub, Tsamarat al-Ihsan, Sya’ir Yusuf dan Ya’qub dan lain-lainnya.
Ulama Tasawuf dan kegemaran ber-Nazham
Dalam beberapa manuskrip karya ulama Minangkabau kita temui berbagai nazham (sya’ir) yang ditulis dengan penuh keindahan. Nazham-nazham yang memiliki muatan yang“dalam”, penuh filosofi dan dirangkai dengan kata-kata indah tersebut biasanya ditulis oleh ulama-ulama sufi untuk menjelaskan pelajaran tasawuf.
Kita teringat dengan Sufi besar yang bermakam di Damaskus, yang digelari Syekh Akbar (Guru besar) dan Kibrit Ahmar (Belerang merah), yaitu Ibnu ‘Arabi. Sya’ir-sya’ir tasawuf-nya telah berpengaruh luas diberbagai belahan dunia, diakui bukan hanya para ulama juga para orientalis yang terpiut dengan karya ini, dan menjadi prestise reputasinya yang memang luar biasa. Sya’ir-sya’irnya sangat indah menawan, dirangkai dengan kata-kata yang indah, balaghi yang tinggi. Satu hal yang perlu digarisbawahi dari sya’ir-sya’ir yang sufi ini ialah ramziyyah (simbol) yang digunakan. Pembaca yang tidak mengerti akan “rumuz” (simbol) niscaya akan tersesat membaca karya-karyanya ini. oleh karena itu sampai saat ini masih banyak, baik para akademisi yang mencap Ibnu ‘Arabi sebagai tokoh yang ghulat (sesat), karena antologi sya’ir-nya Tarjuman al-Asywaq (diterbitkan oleh RA. Nicholson dalam The Tarjuman al-Ashwaq: a collection of Mystical odes by Muhyiddin Ibn ‘Arabi, 1911) yang dianggap menyimpang. Hamka sendiri dalam Tasawuf, Perkembangan dan Pemurniannya menyindir “pengajian” Ibn ‘Arabi dengan judul “cinta membawa larat”, beliau menyebut sang sufi sebagai pencetus panteis dengan teori wahdah al-wujud. Sampai dimana kebenaran ungkapan Hamka? Apakah Ibnu ‘Arabi meyakini bersatu dua zat yang berbeda??? Sudahkah Hamka membaca Dzakha’ir al-A’laq syarah Tarjuman al-Asywaq (terbit di Beirut, 1891) itu? Kita dapat menduga.
Hamzah Fansuri, Sufi besar Aceh sekaligus pujangga mistik Melayu sepanjang masa, juga dikenal dengan sya’ir-sya’ir-nya (nazham) yang penuh simbol, disusun dengan kata-kata sarat estetik dan bermakna dalam.
Dalam al-Hubb al-Ilahy fi Tasawuf Islamy, Dr. Muhammad Mustafa Hilmi menyebutkan sebab dibalik kegemaran ulama sufi menulis sya’ir yang indah-indah itu. Beliau mengemukan: “semuanya karna cinta”. Cinta kepada ilahi menjadi menjadi ghayah (tujuan) utama dari hidup kesufian. Cinta menjadikan semuanya indah. Dengan cara apapun, para sufi ingin menyampaikan keindahan-Nya itu, apakah tulisan-tulisan indah (kaligrafi), puisi-puisi menawan, untaian kata-kata indah bersayap yang penuh makna. Maka hadirnya karya-karya sastra sufi besar, antologi-antologi sya’ir dalam bertuk matsnawi, ruba’i, qashidah dan lainnya.
Begitu pula ulama-ulama sufi di Minangkabau, mereka cenderung bertutur dan menulis dengan kalimat-kalimat sastra; penuh simbol. Ulama-ulama yang produktif menulis nazham (sya’ir) di Minangkabau kebanyakannya ialah ulama-ulama tasawuf belaka. Di sini kita akan melihat 2 nazham yang sarat dengan estetik dan simbolik, yaitu Sya’ir Nuraniyyah Rabbaniyyah dan Sya’ir Ma’rifat.
Sya’ir Nuraniyyah Rabbaniyyah masih berupa manuskrip yang dtulis dengan Arab Melayu. Penulisannya di-nisbah-kan kepada seorang ulama sufi di Alahan Panjang, Tuanku Syekh Talang Babungo. Sya’ir ini menguraikan tasawuf tingkat tinggi (muntahi). Di antara cuplikan sya’irnya:
Wa fi dubdari alam sempurnanya
A’udzubillah penolak balanya
Bismillah itu hendak disya’irkannya
Supaya ‘asyiq segala saudaranya
Johan perkasa Syah(i) alam
Menentang qaba qausain pada siang dan malam
Ke bahrul adam ia tenggelam
Bijaksana dzuq-nya dalam
Tuanku daulat sultan andar (?) bangsawan
Masyhur terbilang lagi perempuan
Pengasih penyayang lagi pahlawan
Kepada ma’rifat jua tertawan
…………
Hendaklah kau pandang kapas dan kain
Bangsanya satu namanya berlain
Satukah allahumma zhahir dan batin
Itulah ilmu kesudahan main
…………
Hendaklah engkau pejamkan kedua matamu
Gilang gumilang rupa[m]u
Itulah cahaya karunia Tuhanmu
Bukannya cahaya tubuh dan nyawamu
Nur yaqin sangat cahayanya
Tanda cahaya dari pada sebenarnya
Anbiya’ dan auliya’ di sanalah hari rayanya
Lailatul qadar-pun namanya
……………
Sya’ir Ma’rifat Tuanku Aluma Koto Tuo, manuskrip salinan Tuanku Isma’il. Di dalamnya terlihat filosofi yang “dalam” dari sebuah sya’ir ulama Minangkabau:
……………
Jalan syari’at sebelum hiasi
Dimana dapat jalan mengingati
Dinding yang tebal sebelum hanci
Mustahil hamba dapat badami
Siapa tuan ma’rifat hakikat
Jalan yang panjang hendaklah lipat
Halus dan kasar jangat bertekat
Siapa sanang kita melompat
Pandang muntahi bukan melangkah
Hanyalah adam sempurna fanah
Dari pada mengingati sudahlah lengah
Tiada sana kenal mengenal[lah]
Patutlah ia bernama qadim
Halus dan kasar sudahlah licin
Dihadirat Allah hanya bermain
Apa kehendak sudahlah amin
Jalan syari’at sebelum terang
Diam disana jadi belarang
Tidak siapa tempat berpegang
Hanyalah amal tempat menompang
Maqam ma’rifat bukanlah begitu
Hanyalah wahid jamaknya satu
Zhahir dan batin pandangnya satu
Tiada berlarang diam disitu
…………
Begitulah ulama tasawuf mengepresikan keindahan dalam bait-bait penuh makna. Di mana menjadi sebuah tren kehidupan Surau Minangkabau di masa lalu.
Sabtu, 08 September 2012
Syekh Inyiak Angku Aluma Koto Tuo: Pemuka Syattariyah di pedalaman Minangkabau (w. 1961)
Oleh: al-Faqir Apria Putra
Ditulis berdasarkan ziarah ke Koto Tuo, Desember 2010
Beliau ialah seorang ulama Tarikat Syathariyah di Darek yang mempunyai pengaruh besar, hingga disebut ketika Ulakan tidak lagi menampakkan pengaruh, nyaris Koto Tuo (dalam hal ini Surau Angku Aluma ini) menyaingi posisi Ulakan, bahkan merebut pengaruh Ulakan dikalangan pengikut Syathariyah. (Latief: 1988)
Foto: Tuanku Aluma Koto Tua (Foto koleksi Surau Kiambang)
Dari segi jaringan intelektual, Angku Aluma mempunyai koneksi yang istimewa dibandingkan dengan ulama-ulama Syathariyah lainnya. Ulama-ulama Syathariyah lainnya umumnya menyandarkan silsilah Tarikat Syathariyahnya hanya kepada Syekh Burhanuddin Ulakan Semata, namun Angku Aluma disamping kepada Syekh Burhanuddin, juga menurut garis silsilah lainnya yaitu kepada Syekh Muhammad Saman Aceh (sama-sama berguru kepada Syekh Burhanuddin Ulakan) melalui gurunya Syekh Angku Sutan Koto Tuo, hal mana Angku Sutan mempunyai hubungan yang erat dengan tokoh terkemuka Paderi Tuanku Koto Tuo.
Dalam sanad sisilah yang terdapat di Kiambang (cabang Syathariyah Koto Tuo), ilmu Tarekat yang dikembangkan oleh Angku Aluma lebih ditekankan kepada gurunya yang tersohor Syekh Tuanku Uwai Limopuluah.
Foto: Penulis (kiri) dan Tuanku Ismed Ismail, cucu Inyiak Aluma. Koto Tuo, desember 2010. didepannya ialah kitab-kitab tulisan tangan peninggalan Inyiak Aluma.
Di Surau Angku Aluma, sebagai halnya Surau Uwai juga mengajarkan keilmuan Islam lewat kitab-kitab klasik, manuskrip, sebahagiannya menggunakan kitab yang sudah dicetak, yang diistilahkan dengan kitab kuning. Bentuk pengajiannya masih model lama yaitu sistem halaqah. Disamping itu, sebagaimana gurunya Tuanku Limopuluah, Syekh Aluma juga terdapat menggubah Sya’ir-sya’ir yang menguraikan pengajian Tubuh. Diantaranya berjudul “Sya’ir Ma’rifat”, kutipan isinya ialah:
Tuhanku tanzih shifatnya muhith
menjadikan hambanya shalih dan ‘abid
mengarangkan ma’rifah ‘ilmu tauhid
dalil memandang supaya qarib
duduklah faqir bersenang-sengan
masa tengah hari orang pun lengang
di hari fikiran tempat berpegang
supaya terus jalan memandang
sya’ir ma’rifat tuan dengarkan
setengahnya jawi hamba ‘uraikan
siapa yang tahu tuan fahamkan
beribu makna ada di dalam
satu sya’ir hendak dikarang
jalan ma’rifat supaya terang
jangan sesat tempat berpegang
dunia akhirat jangan tergamang
……………
Pandang muntahi bukan melangkah
Hanyalah adam sempurna fanah
Dari pada mengingati sudahlah lengah
Tiada sana kenal mengenal[lah]
Patutlah ia bernama qadim
Halus dan kasar sudahlah licin
Dihadirat Allah hanya bermain
Apa kehendak sudahlah amin
Jalan syari’at sebelum terang
Diam disana jadi belarang
Tidak siapa tempat berpegang
Hanyalah amal tempat menompang
Maqam ma’rifat bukanlah begitu
Hanyalah wahid jamaknya satu
Zhahir dan batin pandangnya satu
Tiada berlarang diam disitu
Orang syari’at sebelum karam
Dimana boleh disitu diam
Fariq-nya jauh bertukar jalan [m]
Sauh tempat berlain diam
Diantara murid-murid Tuanku yang kemudian yang berkiprah sebagai jargon Tarikat Syatariyah dikemudian hari ialah:
a. Buya Angku Isma’il Koto Tuo
Beliau ialah akan kandung dari Tuanku Aluma sendiri. Angku Isma’il ini telah menggerakkan pendidikan di kalangan Syathariyah dengan bentuk Madrasah, sebuah inovasi yang belum dikenal sebelumnya. Yaitu dengan mendirikan Madrasah Ibtida’iyah dan Madrasah Tsanawiyah Syathariyah di Bancah Laweh Padang Panjang. Selain itu dia telah memperkokoh posisi Koto Tuo sebagai sentra Syathariyah setelah Ulakan.
b. Syekh Angku Isma’il Kiambang (1901-1965)
Beliau merupakan salah satu murid Syekh Aluma yang mempunyai pengaruh Signifikan di Pariaman. Beliau belajar selama 8 tahun di Surau Angku Aluma, dengan 4 tahun dari keseluruhan masa itu dia belajar Tasawwuf, dalam artian Tarikat Syathariyah. Ajaran-ajaran yang diuraikan Syekh Isma’il ini dapat kita simak dari salinan pengajian yang ditulis muridnya Buya Khatib Yusuf, disalin dalam bentuk tulisan latin, dari tulisan Arab Melayu, kemudian buku ini tersebar dalam bentuk kopian. Diantara isi pengajiannya:
Syathariyah, Syathar dengan makna kashad, artinya yang betul, oleh sebab itu Tarikat Syathariyah artinya jalan yang betul kepada Allah, yaitu shiratal Mustaqim, yakni diri kita sendiri.
………
Tarikat Syathariyah ini diatas mematikan diri sebelum mati.
………
Bahwa rahasia pada pengajian Tarikat sesungguhnya “mengittikatkan sekalian hati dengan hati kepada Rasulullah, sampai kepada Allah.”
Diantara murid-murid Syekh Kiambang ini ialah:
i. Buya Mato Aia Pakandangan
ii. Syekh Angku Marajo Sungai Asam
iii. Buya Khatib Yusuf, Lakuak- Padang
c. Syekh Paingan Sungai Limau
d. Buya Angku Panjang Sungai Sariak, murid-muridnya ialah:
i. Buya Tapakis Lubuk Alung
ii. Buya Angku Sidi Batang Ceno
Ditulis berdasarkan ziarah ke Koto Tuo, Desember 2010
Beliau ialah seorang ulama Tarikat Syathariyah di Darek yang mempunyai pengaruh besar, hingga disebut ketika Ulakan tidak lagi menampakkan pengaruh, nyaris Koto Tuo (dalam hal ini Surau Angku Aluma ini) menyaingi posisi Ulakan, bahkan merebut pengaruh Ulakan dikalangan pengikut Syathariyah. (Latief: 1988)
Foto: Tuanku Aluma Koto Tua (Foto koleksi Surau Kiambang)
Dari segi jaringan intelektual, Angku Aluma mempunyai koneksi yang istimewa dibandingkan dengan ulama-ulama Syathariyah lainnya. Ulama-ulama Syathariyah lainnya umumnya menyandarkan silsilah Tarikat Syathariyahnya hanya kepada Syekh Burhanuddin Ulakan Semata, namun Angku Aluma disamping kepada Syekh Burhanuddin, juga menurut garis silsilah lainnya yaitu kepada Syekh Muhammad Saman Aceh (sama-sama berguru kepada Syekh Burhanuddin Ulakan) melalui gurunya Syekh Angku Sutan Koto Tuo, hal mana Angku Sutan mempunyai hubungan yang erat dengan tokoh terkemuka Paderi Tuanku Koto Tuo.
Dalam sanad sisilah yang terdapat di Kiambang (cabang Syathariyah Koto Tuo), ilmu Tarekat yang dikembangkan oleh Angku Aluma lebih ditekankan kepada gurunya yang tersohor Syekh Tuanku Uwai Limopuluah.
Foto: Penulis (kiri) dan Tuanku Ismed Ismail, cucu Inyiak Aluma. Koto Tuo, desember 2010. didepannya ialah kitab-kitab tulisan tangan peninggalan Inyiak Aluma.
Di Surau Angku Aluma, sebagai halnya Surau Uwai juga mengajarkan keilmuan Islam lewat kitab-kitab klasik, manuskrip, sebahagiannya menggunakan kitab yang sudah dicetak, yang diistilahkan dengan kitab kuning. Bentuk pengajiannya masih model lama yaitu sistem halaqah. Disamping itu, sebagaimana gurunya Tuanku Limopuluah, Syekh Aluma juga terdapat menggubah Sya’ir-sya’ir yang menguraikan pengajian Tubuh. Diantaranya berjudul “Sya’ir Ma’rifat”, kutipan isinya ialah:
Tuhanku tanzih shifatnya muhith
menjadikan hambanya shalih dan ‘abid
mengarangkan ma’rifah ‘ilmu tauhid
dalil memandang supaya qarib
duduklah faqir bersenang-sengan
masa tengah hari orang pun lengang
di hari fikiran tempat berpegang
supaya terus jalan memandang
sya’ir ma’rifat tuan dengarkan
setengahnya jawi hamba ‘uraikan
siapa yang tahu tuan fahamkan
beribu makna ada di dalam
satu sya’ir hendak dikarang
jalan ma’rifat supaya terang
jangan sesat tempat berpegang
dunia akhirat jangan tergamang
……………
Pandang muntahi bukan melangkah
Hanyalah adam sempurna fanah
Dari pada mengingati sudahlah lengah
Tiada sana kenal mengenal[lah]
Patutlah ia bernama qadim
Halus dan kasar sudahlah licin
Dihadirat Allah hanya bermain
Apa kehendak sudahlah amin
Jalan syari’at sebelum terang
Diam disana jadi belarang
Tidak siapa tempat berpegang
Hanyalah amal tempat menompang
Maqam ma’rifat bukanlah begitu
Hanyalah wahid jamaknya satu
Zhahir dan batin pandangnya satu
Tiada berlarang diam disitu
Orang syari’at sebelum karam
Dimana boleh disitu diam
Fariq-nya jauh bertukar jalan [m]
Sauh tempat berlain diam
Diantara murid-murid Tuanku yang kemudian yang berkiprah sebagai jargon Tarikat Syatariyah dikemudian hari ialah:
a. Buya Angku Isma’il Koto Tuo
Beliau ialah akan kandung dari Tuanku Aluma sendiri. Angku Isma’il ini telah menggerakkan pendidikan di kalangan Syathariyah dengan bentuk Madrasah, sebuah inovasi yang belum dikenal sebelumnya. Yaitu dengan mendirikan Madrasah Ibtida’iyah dan Madrasah Tsanawiyah Syathariyah di Bancah Laweh Padang Panjang. Selain itu dia telah memperkokoh posisi Koto Tuo sebagai sentra Syathariyah setelah Ulakan.
b. Syekh Angku Isma’il Kiambang (1901-1965)
Beliau merupakan salah satu murid Syekh Aluma yang mempunyai pengaruh Signifikan di Pariaman. Beliau belajar selama 8 tahun di Surau Angku Aluma, dengan 4 tahun dari keseluruhan masa itu dia belajar Tasawwuf, dalam artian Tarikat Syathariyah. Ajaran-ajaran yang diuraikan Syekh Isma’il ini dapat kita simak dari salinan pengajian yang ditulis muridnya Buya Khatib Yusuf, disalin dalam bentuk tulisan latin, dari tulisan Arab Melayu, kemudian buku ini tersebar dalam bentuk kopian. Diantara isi pengajiannya:
Syathariyah, Syathar dengan makna kashad, artinya yang betul, oleh sebab itu Tarikat Syathariyah artinya jalan yang betul kepada Allah, yaitu shiratal Mustaqim, yakni diri kita sendiri.
………
Tarikat Syathariyah ini diatas mematikan diri sebelum mati.
………
Bahwa rahasia pada pengajian Tarikat sesungguhnya “mengittikatkan sekalian hati dengan hati kepada Rasulullah, sampai kepada Allah.”
Diantara murid-murid Syekh Kiambang ini ialah:
i. Buya Mato Aia Pakandangan
ii. Syekh Angku Marajo Sungai Asam
iii. Buya Khatib Yusuf, Lakuak- Padang
c. Syekh Paingan Sungai Limau
d. Buya Angku Panjang Sungai Sariak, murid-muridnya ialah:
i. Buya Tapakis Lubuk Alung
ii. Buya Angku Sidi Batang Ceno
Kamis, 23 Agustus 2012
Mengenang Sjech Zakaria al-Anshari Labai Sati Malalo (1908-1973): Ahli Ushul dan Mantiq, Pemuka Tarikat Naqsyabandiyah di tepian Singkarak
Dituliskan berdasarkan perjalanan ziarah ke MTI Malalo dan Makam Syekh Zakaria Labai Sati, Juni 2010 dan 3 juni 2011. Dilengkapi keterangan dari catatan-catatan sejarah.
Oleh : Yang Dha’if Apria Putra
Foto: al-Marhum Syekh Zakaria Labai Sati Malalo
(Foto koleksi Buya Tigo Jangko, Lintau)
Bila kita berjalan-jalan di tepian Danau Singkarak, disamping kita disuguhi rumah-rumah gadang yang masih asli dan pemandangan alam yang permai, kita akan menemui satu komplek pendidikan Islam yang terbilang tua. Lembaga ini dimasa kejayaannya mempunyai pengaruh yang luas dan nama yang harum dikalangan masyarakat Minangkabau, yang menjadi salah satu tempat pengkaderan yang menghasilkan banyak ulama dan pejuang agama di berbagai daerah ranah Andalas ini. Lembaga pendidikan itu ialah “Madrasah Tarbiyah Islamiyah” (saat ini sebutan “Madrasah” diganti dengan “Pondok Pesantren” sesuai tuntutan Departemen Agama, padahal sebelumnya nama “Pondok Pesantren” tidak dikenal di Minangkabau, baru beberapa dasawarsa terakhir pemerintah memujuk-mujuk Madrasah-madrasah kita buat jadi “Pondok Pesantren” yang lebih berciri Jawa itu), yang terdapat di Padang Lawas, Malalo.
Pendidikan Islam tradisional yang telah berusia hampir seabad ini telah memainkan peran pentingnya dalam transmisi keilmuan Islam, dan mempunyai nama besar di kalangan ulama-ulama dan masyarakat Minangkabau. Di masa keemasannya, bukan hanya “urang-urang siak” (sebutan santri di Minangkabau) dari berbagai wilayah Minangkabau yang menuntut ilmu di lembaga ini, bahkan ada yang dari negeri yang jauh-jauh, seumpama Aceh. Selain itu tercatat tokoh-tokoh yang lahir dari MTI ini, yang sebahagian besarnya menjadi pejuang agama yang taguh dan pelanjut tradisi pendidikan Islam, penyambung estafet keulamaan di kemudian hari. Siapa tokoh dibalik kebesaran nama “Malalo” sebagai kota “Urang siak” tersebut? Yang telah menjadi pengerak utama Madrasah ini dan mata air ilmu di lembaga ini? Dialah ulama besar yang berenang di laut ilmu, yaitu Syekh Zakaria Labai Sati Malalo, “Alim Allamah”, salah seorang dari pendekar Naqsyabandiyah di Darek.
Demi mengenang hidup beliau, mengingat tokoh yang mempunyai dedikasi yang tak termungkiri dalam transmisi keilmuan Islam yang bertitik tolak kesinambuangan intelektual, maka sangat perlulah kita menilik biografi intelektual beliau, supaya menjadi kaca tempat bercermin terhadap kejayaan Islam masa lalu, dan supaya pula timbul rasa “ta’zhim” akan pejuang-pejuang agama di tanah Minang ini adanya.
Syekh Zakaria, dilahirkan di Padang Lawas Malalo, 1908. Nama kecil beliau ialah “Buyuang”, masyarakat luas mengenalnya dengan panggilan “Buyuang Malalo” saja. Kehidupan masa kecilnya, seperti layaknya anak-anak seusianya, mengaji ke surau di kampung halaman menjadi langkah awal sebelum menuntut ilmu di tempat yang jauh-jauh. Pada tahun 1916 sampai 1918, oleh orang tuanya diserahkan bersekolah pada Sekolah Rakyat (SR) di Pasar Malalo. Setahun setelahnya beliau melanjutkan menuntut ilmu khususnya dalam ilmu Agama di Madrasah Tarbiyah Islamiyah Jaho yang begitu terkenal seantero Minangkabau, kehadapan ulama yang sangat Alim Syekh Muhammad Jamil yang masyhur dengan gelar Angku Jaho atau Inyiak Jaho. Lebih kurang 7 tahun lamanya beliau menuntut ilmu di Jaho, mengaji seluk beluk agama sedalam-dalamnya, apakah Nahwu, Sharaf, Bayan, Ma’ani, Badi’, Mantiq, Tauhid, Fiqih, Tafsir, Hadist, Tasawuf, Ushul dan lain-lainnya. Tepat pada tahun 1926 beliau memperoleh Ijazah dari Madrasah yang masyhur ini.
Khusus dalam ilmu Tarikat, yaitu Tarikat yang tinggi Tarikat Naqsyabandiyah, beliau mengambil daripada Maulana Syekh Ja’far Pulau Gadang Kampar. Berdasarkan sebuah catatan yang disimpan oleh anak cucunya, pertalian silsilah Syekh Zakaria dengan Maulana Syekh Khalid Kurdi sebagai berikut: Syekh Zakaria menerima dari Syekh Ja’far Pulau Gadang, beliau menerima dari Syekh Abdurrahman Tanjuang Alai, beliau menerima dari Syekh Mahmud Alin ad-Dili (Deli?), beliau menerima dari Syekh Abdurrahman ad-Dili (Deli?), beliau menerima dari Maulana Syekh Khalid Kurdi an-Naqsyabandi, selanjutnya bertali-tali hingga kepada Sayyidul Anbiya’ wal Mursalin Nabi Muhammad Sallallahu ‘alaihi wa sallam. Menurut keterangan Syekh Idrus Batu Basurek Kampar, beliau Syekh Zakaria juga mengambil dari Guru dari sekalian ulama Syekh Abdul Ghani Batu Basurek Kampar. Ketika Tuanku Laskar ke Batu Basurek, Syekh Idrus mengisyaratkan tempat dimana Syekh Zakaria Labai Sati mendapat “Irsyad” di ruangan Suluk Batu Basurek tersebut.
Foto: Nazham Silsilah Tarikat Naqsyabandiyah dari Syekh Zakaria Labai Sati Malalo (teks asalnya ialah gubahan Syekh Ismail al-Khalidi Simabur al-Minangkabawi yang wafat pada pertengahan abad ke-19 di Mekah)
Setelah lama menuntut ilmu, telah pula memperoleh “Ijazah”, pada tahun 1930 Syekh Zakaria mendirikan Madrasah di Padang Lawas Malalo. Madrasah ini diberi nama sebegaimana nama Madrasah gurunya di Jaho, Madrasah Tarbiyah Islamiyah. Madrasah ini merujuk kepada organisasi ulama-ulama Minangkabau yang teguh kepada i’tikad Ahlussunnah wal Jama’ah, bermazhab kepada Mazhab Imam besar Imam Syafi’i dan mempusakai Tasawuf dengan mengajarkan kearifan Tarikat-tarikat ahli Sufi yang Mu’tabarah, yaitunya Persatuan Tarbiyah Islamiyah (waktu itu disingkat dengan PERTI). Persatuan ini kala itu sangat besar pengaruhnya di Sumatera Tengah dan menaungi sebahagian besar ulama-ulama tua, madrasah-madrasah dan surau-surau yang tersebar luas saat itu.
Madrasah Tarbiyah Islamiyah Padang Lawas Malalo menjadi sangat tenar, dengan sosok ulama yang memimpinnya, dan ilmu agama yang sungguh-sungguh diajarkan lewat kitab kuning yang lautan ilmu itu. Banyak “urang siak” (istilah untuk santri) berdatangan dari berbagai penjuru Minangkabau untuk menuntut ilmu, bahkan dari rantau yang jauh, seperti dari Aceh, Riau, Jambi dan Maluku.
Adalah Syekh Zakaria Labai Sati sangat dekat hubungan beliau dengan ulama besar Aceh yang sangat Alim Syekh Muda Wali al-Khalidi tersebut, yang juga keturunan dari ulama Minangkabau, Syekh Pelumat asal Batusangkar. Hubungan ini begitu erat, sampai-sampai beliau berdua saling mengaku menjadi murid. Dinama Syekh Zakaria mengaku menjadi murid Syekh Muda Wali, Syekh Muda Wali pun mengaku murid Syekh Zakaria. Begitulah kerendahan hati dari kedua ulama yang Alim semasa dulu. Konon kabarnya yang memberi nama “Zakaria” ialah Syekh Muda Wali (yang masyhur di Minangkabau dengan Angku Aceh) ini. Adapun kisahnya ialah ketika Syekh Muda Wali membuka pengajian di Lubuk Alung (Padang). Kita ketahui bahwa Syekh Muda Wali setelah belajar bertahun-tahun di berbagai Dayah (istilah untuk Pesantren di Aceh) di Aceh, beliau oleh salah seorang tokoh Modernism disuruh belajar pada Normal Islam yang juga cenderung Modern di Padang. Sesampainya di Padang, dan memasuki Normal Islam, rupa-rupanya Syekh Muda Wali tidak berselera untuk sekolah di sekolah yang digembar-gemborkan ini. Sebabnya Normal Islam hanya kebanyakan mengajarkan ilmu umum, ilmu agama hanya diberikan sangat sedikit, sedangkan ilmu Syekh Muda Wali sudah melebihi apa yang diajarkan itu. Syekh Muda Wali lalu keluar dari Normal Islam setelah 3 bulan bertahan. Beliau Syekh Muda Wali kemudian tinggal bersama ulama besar Minangkabau di Padang, yaitu Syekh Khatib Ali al-Fadani (pengarang “Burhanul Haq” dan “Soeloeah Melajoe”) yang dikenal gigih memperjuangkan Ahlussunnah wal Jama’ah dan Mazhab Syafi’i. Perlu kita ketahui bahwa Syekh Muda Wali sudah begitu Alim, hafizh segala “matan” kitab, cakap mensyarah, hingga membuatnya seketika terkenal di Minangkabau. Karena kealimannya itulah banyak ulama Minang terpikat, sampai menjadikannya menantu, ada yang mengajukan syarat untuk berdebat masalah kitab “Alfiyah” (kitab Nahwu yang tertinggi dan terbilang rumit) sebelum mengambil mantu, namun itu semua dapat beliau penuhi.
Syekh Muda Wali kemudian membuka pengajian di Lubuk Alung. Cukup ramai. Disuatu waktu datangnya seorang yang serba putih, berjubah putih dan bertutup kepala putih, duduk paling belakang. Adapun pengajian hari itu seputar ilmu Ushul Fiqih. Setelah usai mensyarah, lelaki berjubah putih itu mengajukan pertanyaan tentang Ushul. Syekh Muda Wali dapat menjawabnya setelah merujuk “Waraqat”. Pada hari berikutnya, pada pengajian yang sama, lelaki serba putih itu mengajukan pertanyaan tentang juga tentang Ushul. Syekh Muda Wali-pun dapat menjawabnya, tetapi setelah merujuk kitab “Latha’if al-Isyarat” (lebih tinggi dari “Waraqat”). Pada hari berikutnya, juga pada pengajian yang sama, lelaki berkopiah putih itu mengajukan pertanyaan lagi-lagi pada Ushul fiqih. Syekh Muda Wali-pun akhirnya dapat menjawab, namun setelah merujuk kitab “Ghayah al-Wushul” (lebih tinggi dari “Latha’if al-Isyarat”). Rupa-rupanya lelaki serba putih itu ialah seorang Ahli Ushul Fiqih, lagi ahli berkata-kata (Mantiq), yang cukup membuat Syekh Muda Wali berpikir keras untuk menjawab soalan yang diajukannya. Lelaki serba putih itu tak lain “Buyuang Malalo”. Karena kealimannya dalam soal Ushul itu, Syekh Muda Wali memberinya nama Zakaria al-Anshari, mengambil berkat kepada pengarang kitab Ushul Fiqih “Ghayah al-Wushul” yaitu Syekhul Islam Syekh Zakaria al-Anshari al-Syafi’i. Sejak itu pulalah, “Buyuang Malalo” masyhur dengan nama Syekh Zakaria al-Anshari Labai Sati, atau yang lebih dikenal dengan Syekh Zakaria Labai Sati Malalo. Demikian penjelasan Buya Laskar Harun Tuanku Sutan nan Kuniang.
Foto: Cover depan kitab "Ghayah al-Wusul Syarh Lubb al-Ushul" karya Syekhul Islam Zakaria al-Anshari as-Syafi'i
Foto: Cover kitab "Hasyiyah 'ala Syarh Sullam lil Malawi" karya Abi al-Irfan Syekh Muhammad ibn Shabban, kitab ilmu Mantiq yang terbilang kitab kelas berat.
Mengenai kedekatan Syekh Zakaria dengan Syekh Muda Wali. Diceritakan di suatu tempat ada orang yang membatalkan amalan Tarikat. Maka datangnya Syekh Zakaria dan Syekh Muda Wali untuk meluruskan bantahan itu. Dimana kedua ulama ini saling isi mengisi, Syekh Muda Wali sangat hafizhnya akan kitab, sedangkan Syekh Zakaria pintar mensyarahnya. Ketika Syekh Muda Wali membacakan “matan” dari hafalannya, ketika itu Syekh Zakaria mensyarahkannya dengan cemerlang. Sehingga tiada yang dapat menegakkan hujjah didepan dua ulama besar ini.
Foto: al-Marhum Syekh Muda Wali al-Khalidi Naqsyabandi Aceh
Antara kedua ulama ini juga saling kunjung mengunjungi. Ketika Syekh Muda Wali sudah kembali ke Aceh, dan mendirikan Dayah Darussalam Labuhan Haji, Syekh Zakaria sering bertamu ke Aceh. Begitulah adab pergaulan ulama-ulama silam.
Madrasah Tarbiyah Islamiyah Malalo yang mencapai zaman keemasannya di masa Syekh Zakaria Labai Sati telah mengeluarkan ulama-ulama penerus estafet keilmuan Islam, tercatat tamatan Madrasah ini yang kemudian menjadi panutan selaku ulama terkemuka, dan memimpin Madrasah-madrasah pula dikemudian hari, diantaranya:
1. Tgk. H. Zamzami Zamra (pimpinan Dayah Darul Hasanah Syekh Abdurrauf Singkel Aceh Selatan)
2. Tgk. H. Abdul Aziz Calang (pimpinan Dayah Patik Calang Aceh Barat)
3. Tgk. H. Baharuddin Tawar (pimpinan Dayah Mulhallimin Tanah Merah Simpang Kanun Singkel)
4. Tgk. Baidhawi (pimpinan Dayah Shabul Yamin Aceh Selatan)
5. Tgk. Muhammad Rasyid (pimpinan Dayah Dayul Yakin Singkel)
6. Tuanku Ali Amran Ringan Ringan (pimpinan Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan Ringan Pariaman)
7. Tgk. Armin Kemunus Labuhan Haji Aceh Selatan
8. Tgk. Ibrahim Lamo Aceh Barat
9. Dan lain-lain banyak lagi.
(catatan murid-murid ini dari buku Sejarah Ringkas Ponpes Tarbiyah Islamiyah Malalo oleh Ibnu Hadjar, tahun 1993, hal. 17)
Foto: Syekh Ali Amran Ringan Ringan (lahir 1926), salah seorang murid Syekh Zakaria Labai Sati Malalo.
Dari Risalah Tablighul Amanah fi Izalah Khurafat wa Syubhah (karangan Maulana Syekh Sulaiman ar-Rasuli, tahun 1954) disebutkan bahwa pada tahun 1954 diadakan konferensi Tarikat Naqsyabandiyah se-Sumatera Tengah untuk membahas buku-buku Haji Jalaluddin, dimana waktu itu hadir 280 ulama-ulama besar Tarikat Naqsyabandiyah dari berbagai daerah di Sumatera Tengah, termasuk Syekh Abdul Ghani Batu Basurek Kampar (yang saat itu usianya sudah lebih 100 tahun), maka Syekh Zakaria Labai Sati Malalo juga hadir sebagai peserta, dicantumkan dalam karya Syekh Sulaiman ar-Rasuli ini.
Syekh Zakaria Labai Sati wafat pada tahun 1973. Madrasah Tarbiyah Islamiyah yang merupakan peninggalan beliau, secara berganti-ganti di pimpin oleh murid-muridnya. Diantaranya dipimpin oleh Alm. Buya H. Thaharuddin (1941-2011), atau yang lebih dikenal dengan gelar Angku Andah Malalo. Saat ini Madrasah Tarbiyah Islamiyah ini diasuh, salah satunya oleh murid Syekh Zakaria pula, yaitu Buya Lasykar Harun Tuanku Sutan nan Kuniang, atau yang lebih akrab dengan panggilan Angku Lasykar.
Foto: al-Marhum Buya H. Thaharuddin (Angku Andah), yang wafat pada Ramadhan tahun lalu (2011)
Foto: Buya Lasykar Harun Tuanku Sutan nan Kuniang (Angku Lasykar)
Sedemikianlah sekeping tarikh perjalanan ulama Syekh Zakaria Labai Sati Malalo, ulama terkemuka Minangkabau dari Malalo setelah ulama Besar Tuanku Uwaih Limo Puluah, yang tercatat sebagai pejuang Agama. Beliau telah mewariskan keilmuan Islam yang luas dan dalam lewat kitab Kuning, mempusakai kita dengan Tarikat penghulu Naqsyabandiyah. Semoga kita bisa meneladani beliau, tempat bercermin, mengukur badan, untuk memperjuangkan Ahlussunnah wal Jama’ah sebagaimana pitua ulama-ulama besar silam, di Tanah Seribu Ulama ini, Ranah Minangkabau yang elok permai. Amin.
Akhirnya, tersebut dalam Nazham Silsilah Naqsyabandiyah, gubahan dari Nazham Syekh Isma’il al-Khalidi Naqsyabandi Simabur al-Minangkabawi, halmana ditambahkan beberapa bait perihal 2 ulama besar, Syekh Zakaria Labai Sati Malalo dan Syekh Muda Wali al-Khalidi, sebagai berikut:
وبعده مرشـدنا لابي ساتى # أعني به زكريا الأنصاري
بصاحب العلامة الحـكيم # مرشدنا محمد والي الفهيم
فيا إلهـي قدسن سـرهما # وقربن بطه سكنا هــما
Terjemahannya:
“dan setelahnya (setelah syekh-syekh sesuai urutan Silsilah sebelumnya), Mursyid kami Labai Sati, yaitunya Syekh Zakaria al-Anshari.
Dan sahabatnya yang alim lagi bijaksana, yaitu mursyid kami Muhammad Wali yang luas fahamnya.
Wahai Tuhanku, sucikanlah Sir dari keduanya, dan dekatkan pula tempat keduanya, dengan tuah junjungan Thaha (Muhammad)…”.
Amin ya Rabb al-‘Alamin. Wallahu al-Muwafiq ila Aqwam al-Thariq, wal Hadi Ila Sabil al-Rasyad.
Padang Batang, Mungka, 5 Syawal 1433 H/ 23 Agustus 2012.
Ditangan yang dha’if dan kurang ilmu
al-Faqir Apria Putra adanya.
Oleh : Yang Dha’if Apria Putra
Foto: al-Marhum Syekh Zakaria Labai Sati Malalo
(Foto koleksi Buya Tigo Jangko, Lintau)
Bila kita berjalan-jalan di tepian Danau Singkarak, disamping kita disuguhi rumah-rumah gadang yang masih asli dan pemandangan alam yang permai, kita akan menemui satu komplek pendidikan Islam yang terbilang tua. Lembaga ini dimasa kejayaannya mempunyai pengaruh yang luas dan nama yang harum dikalangan masyarakat Minangkabau, yang menjadi salah satu tempat pengkaderan yang menghasilkan banyak ulama dan pejuang agama di berbagai daerah ranah Andalas ini. Lembaga pendidikan itu ialah “Madrasah Tarbiyah Islamiyah” (saat ini sebutan “Madrasah” diganti dengan “Pondok Pesantren” sesuai tuntutan Departemen Agama, padahal sebelumnya nama “Pondok Pesantren” tidak dikenal di Minangkabau, baru beberapa dasawarsa terakhir pemerintah memujuk-mujuk Madrasah-madrasah kita buat jadi “Pondok Pesantren” yang lebih berciri Jawa itu), yang terdapat di Padang Lawas, Malalo.
Pendidikan Islam tradisional yang telah berusia hampir seabad ini telah memainkan peran pentingnya dalam transmisi keilmuan Islam, dan mempunyai nama besar di kalangan ulama-ulama dan masyarakat Minangkabau. Di masa keemasannya, bukan hanya “urang-urang siak” (sebutan santri di Minangkabau) dari berbagai wilayah Minangkabau yang menuntut ilmu di lembaga ini, bahkan ada yang dari negeri yang jauh-jauh, seumpama Aceh. Selain itu tercatat tokoh-tokoh yang lahir dari MTI ini, yang sebahagian besarnya menjadi pejuang agama yang taguh dan pelanjut tradisi pendidikan Islam, penyambung estafet keulamaan di kemudian hari. Siapa tokoh dibalik kebesaran nama “Malalo” sebagai kota “Urang siak” tersebut? Yang telah menjadi pengerak utama Madrasah ini dan mata air ilmu di lembaga ini? Dialah ulama besar yang berenang di laut ilmu, yaitu Syekh Zakaria Labai Sati Malalo, “Alim Allamah”, salah seorang dari pendekar Naqsyabandiyah di Darek.
Demi mengenang hidup beliau, mengingat tokoh yang mempunyai dedikasi yang tak termungkiri dalam transmisi keilmuan Islam yang bertitik tolak kesinambuangan intelektual, maka sangat perlulah kita menilik biografi intelektual beliau, supaya menjadi kaca tempat bercermin terhadap kejayaan Islam masa lalu, dan supaya pula timbul rasa “ta’zhim” akan pejuang-pejuang agama di tanah Minang ini adanya.
Syekh Zakaria, dilahirkan di Padang Lawas Malalo, 1908. Nama kecil beliau ialah “Buyuang”, masyarakat luas mengenalnya dengan panggilan “Buyuang Malalo” saja. Kehidupan masa kecilnya, seperti layaknya anak-anak seusianya, mengaji ke surau di kampung halaman menjadi langkah awal sebelum menuntut ilmu di tempat yang jauh-jauh. Pada tahun 1916 sampai 1918, oleh orang tuanya diserahkan bersekolah pada Sekolah Rakyat (SR) di Pasar Malalo. Setahun setelahnya beliau melanjutkan menuntut ilmu khususnya dalam ilmu Agama di Madrasah Tarbiyah Islamiyah Jaho yang begitu terkenal seantero Minangkabau, kehadapan ulama yang sangat Alim Syekh Muhammad Jamil yang masyhur dengan gelar Angku Jaho atau Inyiak Jaho. Lebih kurang 7 tahun lamanya beliau menuntut ilmu di Jaho, mengaji seluk beluk agama sedalam-dalamnya, apakah Nahwu, Sharaf, Bayan, Ma’ani, Badi’, Mantiq, Tauhid, Fiqih, Tafsir, Hadist, Tasawuf, Ushul dan lain-lainnya. Tepat pada tahun 1926 beliau memperoleh Ijazah dari Madrasah yang masyhur ini.
Khusus dalam ilmu Tarikat, yaitu Tarikat yang tinggi Tarikat Naqsyabandiyah, beliau mengambil daripada Maulana Syekh Ja’far Pulau Gadang Kampar. Berdasarkan sebuah catatan yang disimpan oleh anak cucunya, pertalian silsilah Syekh Zakaria dengan Maulana Syekh Khalid Kurdi sebagai berikut: Syekh Zakaria menerima dari Syekh Ja’far Pulau Gadang, beliau menerima dari Syekh Abdurrahman Tanjuang Alai, beliau menerima dari Syekh Mahmud Alin ad-Dili (Deli?), beliau menerima dari Syekh Abdurrahman ad-Dili (Deli?), beliau menerima dari Maulana Syekh Khalid Kurdi an-Naqsyabandi, selanjutnya bertali-tali hingga kepada Sayyidul Anbiya’ wal Mursalin Nabi Muhammad Sallallahu ‘alaihi wa sallam. Menurut keterangan Syekh Idrus Batu Basurek Kampar, beliau Syekh Zakaria juga mengambil dari Guru dari sekalian ulama Syekh Abdul Ghani Batu Basurek Kampar. Ketika Tuanku Laskar ke Batu Basurek, Syekh Idrus mengisyaratkan tempat dimana Syekh Zakaria Labai Sati mendapat “Irsyad” di ruangan Suluk Batu Basurek tersebut.
Foto: Nazham Silsilah Tarikat Naqsyabandiyah dari Syekh Zakaria Labai Sati Malalo (teks asalnya ialah gubahan Syekh Ismail al-Khalidi Simabur al-Minangkabawi yang wafat pada pertengahan abad ke-19 di Mekah)
Setelah lama menuntut ilmu, telah pula memperoleh “Ijazah”, pada tahun 1930 Syekh Zakaria mendirikan Madrasah di Padang Lawas Malalo. Madrasah ini diberi nama sebegaimana nama Madrasah gurunya di Jaho, Madrasah Tarbiyah Islamiyah. Madrasah ini merujuk kepada organisasi ulama-ulama Minangkabau yang teguh kepada i’tikad Ahlussunnah wal Jama’ah, bermazhab kepada Mazhab Imam besar Imam Syafi’i dan mempusakai Tasawuf dengan mengajarkan kearifan Tarikat-tarikat ahli Sufi yang Mu’tabarah, yaitunya Persatuan Tarbiyah Islamiyah (waktu itu disingkat dengan PERTI). Persatuan ini kala itu sangat besar pengaruhnya di Sumatera Tengah dan menaungi sebahagian besar ulama-ulama tua, madrasah-madrasah dan surau-surau yang tersebar luas saat itu.
Madrasah Tarbiyah Islamiyah Padang Lawas Malalo menjadi sangat tenar, dengan sosok ulama yang memimpinnya, dan ilmu agama yang sungguh-sungguh diajarkan lewat kitab kuning yang lautan ilmu itu. Banyak “urang siak” (istilah untuk santri) berdatangan dari berbagai penjuru Minangkabau untuk menuntut ilmu, bahkan dari rantau yang jauh, seperti dari Aceh, Riau, Jambi dan Maluku.
Adalah Syekh Zakaria Labai Sati sangat dekat hubungan beliau dengan ulama besar Aceh yang sangat Alim Syekh Muda Wali al-Khalidi tersebut, yang juga keturunan dari ulama Minangkabau, Syekh Pelumat asal Batusangkar. Hubungan ini begitu erat, sampai-sampai beliau berdua saling mengaku menjadi murid. Dinama Syekh Zakaria mengaku menjadi murid Syekh Muda Wali, Syekh Muda Wali pun mengaku murid Syekh Zakaria. Begitulah kerendahan hati dari kedua ulama yang Alim semasa dulu. Konon kabarnya yang memberi nama “Zakaria” ialah Syekh Muda Wali (yang masyhur di Minangkabau dengan Angku Aceh) ini. Adapun kisahnya ialah ketika Syekh Muda Wali membuka pengajian di Lubuk Alung (Padang). Kita ketahui bahwa Syekh Muda Wali setelah belajar bertahun-tahun di berbagai Dayah (istilah untuk Pesantren di Aceh) di Aceh, beliau oleh salah seorang tokoh Modernism disuruh belajar pada Normal Islam yang juga cenderung Modern di Padang. Sesampainya di Padang, dan memasuki Normal Islam, rupa-rupanya Syekh Muda Wali tidak berselera untuk sekolah di sekolah yang digembar-gemborkan ini. Sebabnya Normal Islam hanya kebanyakan mengajarkan ilmu umum, ilmu agama hanya diberikan sangat sedikit, sedangkan ilmu Syekh Muda Wali sudah melebihi apa yang diajarkan itu. Syekh Muda Wali lalu keluar dari Normal Islam setelah 3 bulan bertahan. Beliau Syekh Muda Wali kemudian tinggal bersama ulama besar Minangkabau di Padang, yaitu Syekh Khatib Ali al-Fadani (pengarang “Burhanul Haq” dan “Soeloeah Melajoe”) yang dikenal gigih memperjuangkan Ahlussunnah wal Jama’ah dan Mazhab Syafi’i. Perlu kita ketahui bahwa Syekh Muda Wali sudah begitu Alim, hafizh segala “matan” kitab, cakap mensyarah, hingga membuatnya seketika terkenal di Minangkabau. Karena kealimannya itulah banyak ulama Minang terpikat, sampai menjadikannya menantu, ada yang mengajukan syarat untuk berdebat masalah kitab “Alfiyah” (kitab Nahwu yang tertinggi dan terbilang rumit) sebelum mengambil mantu, namun itu semua dapat beliau penuhi.
Syekh Muda Wali kemudian membuka pengajian di Lubuk Alung. Cukup ramai. Disuatu waktu datangnya seorang yang serba putih, berjubah putih dan bertutup kepala putih, duduk paling belakang. Adapun pengajian hari itu seputar ilmu Ushul Fiqih. Setelah usai mensyarah, lelaki berjubah putih itu mengajukan pertanyaan tentang Ushul. Syekh Muda Wali dapat menjawabnya setelah merujuk “Waraqat”. Pada hari berikutnya, pada pengajian yang sama, lelaki serba putih itu mengajukan pertanyaan tentang juga tentang Ushul. Syekh Muda Wali-pun dapat menjawabnya, tetapi setelah merujuk kitab “Latha’if al-Isyarat” (lebih tinggi dari “Waraqat”). Pada hari berikutnya, juga pada pengajian yang sama, lelaki berkopiah putih itu mengajukan pertanyaan lagi-lagi pada Ushul fiqih. Syekh Muda Wali-pun akhirnya dapat menjawab, namun setelah merujuk kitab “Ghayah al-Wushul” (lebih tinggi dari “Latha’if al-Isyarat”). Rupa-rupanya lelaki serba putih itu ialah seorang Ahli Ushul Fiqih, lagi ahli berkata-kata (Mantiq), yang cukup membuat Syekh Muda Wali berpikir keras untuk menjawab soalan yang diajukannya. Lelaki serba putih itu tak lain “Buyuang Malalo”. Karena kealimannya dalam soal Ushul itu, Syekh Muda Wali memberinya nama Zakaria al-Anshari, mengambil berkat kepada pengarang kitab Ushul Fiqih “Ghayah al-Wushul” yaitu Syekhul Islam Syekh Zakaria al-Anshari al-Syafi’i. Sejak itu pulalah, “Buyuang Malalo” masyhur dengan nama Syekh Zakaria al-Anshari Labai Sati, atau yang lebih dikenal dengan Syekh Zakaria Labai Sati Malalo. Demikian penjelasan Buya Laskar Harun Tuanku Sutan nan Kuniang.
Foto: Cover depan kitab "Ghayah al-Wusul Syarh Lubb al-Ushul" karya Syekhul Islam Zakaria al-Anshari as-Syafi'i
Foto: Cover kitab "Hasyiyah 'ala Syarh Sullam lil Malawi" karya Abi al-Irfan Syekh Muhammad ibn Shabban, kitab ilmu Mantiq yang terbilang kitab kelas berat.
Mengenai kedekatan Syekh Zakaria dengan Syekh Muda Wali. Diceritakan di suatu tempat ada orang yang membatalkan amalan Tarikat. Maka datangnya Syekh Zakaria dan Syekh Muda Wali untuk meluruskan bantahan itu. Dimana kedua ulama ini saling isi mengisi, Syekh Muda Wali sangat hafizhnya akan kitab, sedangkan Syekh Zakaria pintar mensyarahnya. Ketika Syekh Muda Wali membacakan “matan” dari hafalannya, ketika itu Syekh Zakaria mensyarahkannya dengan cemerlang. Sehingga tiada yang dapat menegakkan hujjah didepan dua ulama besar ini.
Foto: al-Marhum Syekh Muda Wali al-Khalidi Naqsyabandi Aceh
Antara kedua ulama ini juga saling kunjung mengunjungi. Ketika Syekh Muda Wali sudah kembali ke Aceh, dan mendirikan Dayah Darussalam Labuhan Haji, Syekh Zakaria sering bertamu ke Aceh. Begitulah adab pergaulan ulama-ulama silam.
Madrasah Tarbiyah Islamiyah Malalo yang mencapai zaman keemasannya di masa Syekh Zakaria Labai Sati telah mengeluarkan ulama-ulama penerus estafet keilmuan Islam, tercatat tamatan Madrasah ini yang kemudian menjadi panutan selaku ulama terkemuka, dan memimpin Madrasah-madrasah pula dikemudian hari, diantaranya:
1. Tgk. H. Zamzami Zamra (pimpinan Dayah Darul Hasanah Syekh Abdurrauf Singkel Aceh Selatan)
2. Tgk. H. Abdul Aziz Calang (pimpinan Dayah Patik Calang Aceh Barat)
3. Tgk. H. Baharuddin Tawar (pimpinan Dayah Mulhallimin Tanah Merah Simpang Kanun Singkel)
4. Tgk. Baidhawi (pimpinan Dayah Shabul Yamin Aceh Selatan)
5. Tgk. Muhammad Rasyid (pimpinan Dayah Dayul Yakin Singkel)
6. Tuanku Ali Amran Ringan Ringan (pimpinan Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan Ringan Pariaman)
7. Tgk. Armin Kemunus Labuhan Haji Aceh Selatan
8. Tgk. Ibrahim Lamo Aceh Barat
9. Dan lain-lain banyak lagi.
(catatan murid-murid ini dari buku Sejarah Ringkas Ponpes Tarbiyah Islamiyah Malalo oleh Ibnu Hadjar, tahun 1993, hal. 17)
Foto: Syekh Ali Amran Ringan Ringan (lahir 1926), salah seorang murid Syekh Zakaria Labai Sati Malalo.
Dari Risalah Tablighul Amanah fi Izalah Khurafat wa Syubhah (karangan Maulana Syekh Sulaiman ar-Rasuli, tahun 1954) disebutkan bahwa pada tahun 1954 diadakan konferensi Tarikat Naqsyabandiyah se-Sumatera Tengah untuk membahas buku-buku Haji Jalaluddin, dimana waktu itu hadir 280 ulama-ulama besar Tarikat Naqsyabandiyah dari berbagai daerah di Sumatera Tengah, termasuk Syekh Abdul Ghani Batu Basurek Kampar (yang saat itu usianya sudah lebih 100 tahun), maka Syekh Zakaria Labai Sati Malalo juga hadir sebagai peserta, dicantumkan dalam karya Syekh Sulaiman ar-Rasuli ini.
Syekh Zakaria Labai Sati wafat pada tahun 1973. Madrasah Tarbiyah Islamiyah yang merupakan peninggalan beliau, secara berganti-ganti di pimpin oleh murid-muridnya. Diantaranya dipimpin oleh Alm. Buya H. Thaharuddin (1941-2011), atau yang lebih dikenal dengan gelar Angku Andah Malalo. Saat ini Madrasah Tarbiyah Islamiyah ini diasuh, salah satunya oleh murid Syekh Zakaria pula, yaitu Buya Lasykar Harun Tuanku Sutan nan Kuniang, atau yang lebih akrab dengan panggilan Angku Lasykar.
Foto: al-Marhum Buya H. Thaharuddin (Angku Andah), yang wafat pada Ramadhan tahun lalu (2011)
Foto: Buya Lasykar Harun Tuanku Sutan nan Kuniang (Angku Lasykar)
Sedemikianlah sekeping tarikh perjalanan ulama Syekh Zakaria Labai Sati Malalo, ulama terkemuka Minangkabau dari Malalo setelah ulama Besar Tuanku Uwaih Limo Puluah, yang tercatat sebagai pejuang Agama. Beliau telah mewariskan keilmuan Islam yang luas dan dalam lewat kitab Kuning, mempusakai kita dengan Tarikat penghulu Naqsyabandiyah. Semoga kita bisa meneladani beliau, tempat bercermin, mengukur badan, untuk memperjuangkan Ahlussunnah wal Jama’ah sebagaimana pitua ulama-ulama besar silam, di Tanah Seribu Ulama ini, Ranah Minangkabau yang elok permai. Amin.
Akhirnya, tersebut dalam Nazham Silsilah Naqsyabandiyah, gubahan dari Nazham Syekh Isma’il al-Khalidi Naqsyabandi Simabur al-Minangkabawi, halmana ditambahkan beberapa bait perihal 2 ulama besar, Syekh Zakaria Labai Sati Malalo dan Syekh Muda Wali al-Khalidi, sebagai berikut:
وبعده مرشـدنا لابي ساتى # أعني به زكريا الأنصاري
بصاحب العلامة الحـكيم # مرشدنا محمد والي الفهيم
فيا إلهـي قدسن سـرهما # وقربن بطه سكنا هــما
Terjemahannya:
“dan setelahnya (setelah syekh-syekh sesuai urutan Silsilah sebelumnya), Mursyid kami Labai Sati, yaitunya Syekh Zakaria al-Anshari.
Dan sahabatnya yang alim lagi bijaksana, yaitu mursyid kami Muhammad Wali yang luas fahamnya.
Wahai Tuhanku, sucikanlah Sir dari keduanya, dan dekatkan pula tempat keduanya, dengan tuah junjungan Thaha (Muhammad)…”.
Amin ya Rabb al-‘Alamin. Wallahu al-Muwafiq ila Aqwam al-Thariq, wal Hadi Ila Sabil al-Rasyad.
Padang Batang, Mungka, 5 Syawal 1433 H/ 23 Agustus 2012.
Ditangan yang dha’if dan kurang ilmu
al-Faqir Apria Putra adanya.
Langganan:
Entri (Atom)






